• Sabtu, April 10, 2010
  • Administrator


Berbagai macam cara dilakukan oleh masyarakat dalam memperingati 100 hari wafatnya GusDur, atau KH Abdurrahman Wahid. Sebagian besar memperingatinya dengan menggelar tahlil dan doa bersama. Namun, di Yogyakarta, warga Tionghoa dan kaum muda nahdatul ulama setempat, menggelar karnaval budaya Bhinneka Tunggal Ika. Karnaval budaya ini sebagai wujud keberhasilan almarhum GusDur, dalam memperjuangkan pluralisme dan kebhinekaan di negeri ini.

Bermacam jenis seni dan budaya dari berbagai etnis dan daerah, memeriahkan karnaval budaya di Jalan Malioboro. Barisan paling depan, adalah Tari Perang Warga Papua yang ada di Yogyakarta. Kemudian disusul warga Tionghoa Yogyakarta yang menampilkan seni liong. Tidak ketinggalan pula, warga Yogyakarta dengan pakaian pasukan keraton memeriahkan karnaval budaya 100 hari wafatnya GusDur. Puluhan mahasiswa dari lombok, lampung dan jakarta menampilkan kesenian daerahnya masing - masing. Tak lupa perwakilan dari berbagai daerah tersebut membawa foto GusDur, sebagai wujud kekaguman dan kecintaannya pada GusDur.

Ribuan peserta karnaval budaya berjalan menyusuri jalan Malioboro dan melintasi perempatan kantor pos besar, serta berkahir di alun-alun utara keraton Yogyakarta. Di sepanjang jalan Malioboro, mendapatkan sambutan ribuan warga masyarakat.

Sebelum karnaval budaya dimulai, ribuan peserta berkumpul di taman parkir jalan abu bakar ali, dan dilepas oleh adik GusDur, Lily Wahid. Dalam sambutannya Lily Wahid merasa bangga dengan sambutan warga dari berbagai daerah di Yogyakarta, yang memperingati 100 hari wafatnya GusDur dengan menggelar karnaval.

Karnaval budaya 100 hari wafatnya GusDur di Yogyakarta, mengambil tema memperkokoh NKRI dan memperkuat integritas bangsa Indonesia.

BTemplates.com

Categories

Kamera CCTV Palembang

Popular Posts

Blog Archive