• Selasa, Juni 21, 2011
  • Administrator
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRwiXQWX4WxtzpjyrWQKqFLzko9qfuqpek17xtjI0l1NgemonympKaObtO-SOTWFp7H9uJENgcCHgxoyNOrsiH8LG1q-C7CpPLJ7SbOShyphenhyphen3BuhFbOyJXJ4aZDN6ddcvkxijk9hEd2Vyvk/s400/kuntilanak.jpg
Sesosok hantu wanita berambut panjang –yang biasa disebut kuntilanak– tertangkap kamera secara tidak sengaja di Desa Nagrek, Sukabumi, Jawa Barat. Hantu tersebut tampak tertangkap kamera berkali-kali.

Seperti dituturkan Ika, ayah dari Ade si perekam video hantu tersebut mengakui jika secara kasat mata, hantu berjubah merah itu tak dapat terlihat. Hantu baru terlihat ketika Ade menyorotnya dengan handy cam.

“Kalau pakai mata tak kelihatan, tapi kalau lewat kamera jadi kelihatan,” tutur Ade saat diwawancarai RCTI. “Ini bukan rekayasa,” tegas Ade berusaha meyakinkan. Pengambilan gambar itu terjadi sekira sore hari menjelang Maghrib.

Pengakuan mengenai keberadaan hantu wanita berambut panjang juga diakui Edward, seorang warga Desa Nagrek. Dia sering mendengar suara-suara aneh ketika melintas di depan rumah kosong tersebut.

“Saya sering juga melihat atau dengar ada suara perempuan nangis, ternyata orangnya tidak ada,” cerita Edward.



Rekaman hantu yang diduga sebagai penghuni rumah kosong selama 17 tahun ini membuat seluruh penduduk desa heboh. Bahkan kehebohan juga tersiar hingga ke luar Desa Nagrek, Sukabumi, Jawa Barat.

  • Selasa, Juni 21, 2011
  • Administrator
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEje03mxFvWc5PoOJHRTfZVeSsSFZF4MjyRcJ9mCWaFbmfnmEwO0yIc-DiTfN47bU2oA69KBJLje7yfYMqfwM9LE25Pg3HXRWsiIslGG8u6nWvEWN70UnnAOW6npVwej5K13kkZZS5VLrMA/s1600/kuntilanak.jpgPetikan syair berikut ini pasti tidak asing lagi bagi yang pernah menonton film kuntilanak yang dibintangi julie estelle, itu adalah syair durma yang katanya bisa digunakan untuk memanggil kuntilanak seperti yang diceritakan dalam film tersebut. Syairnya kira kira demikian:

ingsir wengi sliramu tumeking sirno
ojo tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro
aku lagi bang wingo wingo
jin setan kang tak utusi
jin setan kang tak utusi
dadyo sebarang
wojo lelayu sebet

Durma itu adalah salah satu pakem lagu dalam Macapat. Macapat adalah kumpulan lagu Jawa yang mencakup 11 pakem (Dandhanggula, Mijil, Pocung, Megatruh, Gambuh, Sinom, Maskumambang, Pangkur, Durma, Asmarandana, dan Kinanthi). Tradisi Macapat ini diperkirakan sudah mulai ada sejak jaman akhir kerajaan Majapahit.

Dan kira-kira artinya seperti ini:

Menjelang malam, dirimu(bayangmu) mulai sirna…
Jangan terbangun dari tidurmu…
Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)…
Aku sedang gelisah,
Jin setan ku perintahkan
Jadilah apapun juga,
Namun jangan membawa maut…

Setiap jenis pakem itu ada rumusnya (misal terdiri berapa baris; berapa suku kata; dan bunyi vokal tiap akhir baris). Jadi Durma pun punya rumus juga, dan Tembang Durma itu nggak cuma satu macam tapi banyak judulnya. Yang di muat di film itu cuma salah satunya. Rumus pakem lagu Durma adl: 12-a; 7-i; 6-a; 7-a; 8-i; 5-a; 7-i.

Setiap tembang dalam Macapat mencerminkan watak yang berbeda-beda. Durma, disebut sebagai bagian Macapat yang mencerminkan suasana/sifat keras, sangar, dan suram. Bahkan kadang mengungkapkan hal-hal yg angker dlm kehidupan. Cocok tuh, kalo film Kuntilanak mengekspos tembang ini. Tauuu aja…

Dalam tradisi Jawa, ada istilah Tembang Dolanan (Lagu Mainan). Yang dimaksud adalah lagu yang dipakai untuk ritual permainan magis Jawa. Misal, ada lagu untuk memainkan Jalangkung; ada lagu untuk memanggil roh dlm permainan boneka Ni Thowong; dsb. Ada pula lagu yang dipercaya bisa memanggil buaya di sungai (dari pakem Megatruh), dan oleh orang Jawa sampai saat ini masih menjadi mitos larangan untuk dinyanyikan di sungai.

Tapi untuk lagu-lagu ritual, biasanya nggak berdiri sendiri untuk memfungsikannya. Lagu itu dinyanyikan dengan iringan syarat ritual yg lain. Tiap ritual syarat/sesajinya biasanya sangat spesifik, jadi kalo tidak memakai sesaji itu ya lagu yg dinyanyikan nggak akan berpengaruh.

Di adat Jawa, ada lagu lain untuk "manggil" setan:

Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo
Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho
Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah
Yen obah medheni bocah…

Dulu sebelum ada mainan2 canggih kayak sekarang, yg ada cuma mainan tradisional. Anak – anak Jawa punya tradisi, kalo bulan purnama mereka bikin boneka dari keranjang bunga yg habis dipakai buat ziarah (kayak Jelangkung). Trus bikin sesaji bunga tujuh rupa, sirih, dan tembakau, ditaruh di salah satu pinggir sungai.

Di malam bulan purnama, anak – anak mengelilingi boneka itu sambil menyanyikan lagu tadi. Lagu itu dinyanyikan berulang kali sambil memegang boneka, dan lalu… Boneka akan bergerak… agresif…!

Itu artinya roh penunggu sungai telah masuk ke boneka dan mau diajak bermain. Permainannya, boneka itu harus terus dipegang dan roh boneka itu akan membawa pemegangnya berlari-lari kemana-mana, lalu ini dijadikan permainan kejar-kejaran.

Siapa yg kelelahan akan ‘ditangkap’ oleh ‘boneka hidup’ itu, dipukuli dengan kepala boneka yg biasanya dibuat dari tempurung. Yang menggerakkan adl roh di dlm boneka itu.

Permainan ini disebut Ni Thowong, atau Ninidok, atau ada lagi yang nyebut Nini Thowok.

Permainan tersebut emang lazim dimainkan anak – anak jaman dulu, soalnya jaman dulu belum ada mall, belum ada bioskop apalagi playstation, dll..
  • Selasa, Juni 21, 2011
  • Administrator
Keangkeran Gunung Raung sudah terlihat dari nama-nama pos pendakian yang ada, mulai dari Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Mayit dan Pondok Angin. Semua itu mempunyai sejarah tersendiri hingga dinamakan demikian.

Pondok Sumur misalnya, katanya terdapat sebuah sumur yang biasa digunakan seorang pertapa sakti asal Gresik. Sumur dan pertapa itu dipercaya masih ada, hanya saja tak kasat mata. Di Pondok Sumur ini, saat berkemah,juga terdengar suara derap kaki kuda yang seakan melintas di belakang tenda.

Selanjutnya Pondok Demit, disinilah tempat aktivitas jual-beli para lelembut atau dikenal dengan Parset (Pasar Setan). Sehingga, padaMore… hari-hari tertentu akan terdengar keramaian pasar yang sering diiringi dengan alunan musik. Lokasi pasar setan terletak disebelah timur jalur, sebuah lembah dangkal yang hanya dipenuhi ilalang setinggi perut dan pohon perdu.
Pondok Mayit adalah pos yang sejarahnya paling menyeramkan, karena dulu pernah ditemukan sesosok mayat yang menggantung di sebuah pohon. Mayat itu adalah seorang bangsawan Belanda yang dibunuh oleh para pejuang saat itu.

Tak jauh dari Pondok Mayit, adalah Pondok Angin yang juga merupakan pondok terakhir atau base camp pendaki. Tempat ini menyajikan pemandangan yang memukau karena letaknya yang berada di puncak bukit, sehingga kita dapat menyaksikan pemandangan alam pegunungan yang ada disekitarnya.

Gemerlapnya kota Bondowoso dan Situbondo serta sambaran kilat jika kota itu mendung, menjadi fenomena alam yang sangat luar biasa. Namun, angin bertiup sangat kencang dan seperti maraung-raung di pendengaran. Karenanya gunung ini dinamakan Raung, suara anginnya yang meraung di telinga terkadang dapat menghempaskan kita didasar jurang yang terjal.

Sebelah barat yang merupakan perbukitan terjal itu adalah lokasi kerajaan Macan Putih, singgasananya Pangeran Tawangulun. Di sini, juga sering terengar derap kaki suara kuda dari kereta kencana. Konon, pondok Angin ini merupakan pintu gerbang masuk kerajaan gaib itu. Misteri Gunung Raung

Konon, di perbukitan yang mengelilingi kaldera itulah kerajaan Macan Putih berdiri. Sebuah kerajaan yang berdiri saat gunung ini meletus tahun 1638. Pusatnya terletak di puncak Gunung Raung. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Pangeran Tawangulun.

Beliau adalah salah-satu anak raja Kerajaan Majapahit yang hilang saat bertapa di gunung. Keberadaan kerajaan itu sedikit banyak masih memiliki hubungan yang erat dengan penduduk setempat. Misalnya bila terjadi upacara pernikahan di kerajaan, maka hewan-hewan di perkampungan banyak yang mati. Hewan-hewan itu dijadikan upeti bagi penguasa kerajaan.

Konon, menurut masyarakat setempat, seluruh isi dan penghuni kerajaan Macan Putih lenyap masuk ke alam gaib atau dikenal dengan istilah mukso. Dan hanya pada saat tertentu, tepatnya setiap malam jum’at kliwon, kerajaan itu kembali ke alam nyata.

Pangeran Tawangulun dipercaya merupakan salah satu suami dari Nyai Roro Kidul. Setiap malam jum’at itulah penguasa laut selatan mengunjungi suaminya. Biasanya, akan terdengar suara derap kaki kuda ditempat yang sakral. Suara tersebut berasal dari kereta kencana Sang Ratu yang sedang mengunjungi sang suami Pangeran Tawangulun.

Bila mendengar suara tersebut lebih baik pura-pura tidak mendengar. Jika dipertegas, suara akan bertambah keras dan mungkin akan menampak wujudnya. Bila demikian, kemungkinan kita akan terbawa masuk ke alam gaib dan kemudian dijadikan abdi dalem kerajaan Macan Putih.
  • Selasa, Juni 21, 2011
  • Administrator
Nenek misterius itu menyebut dirinya sebegai Nini Growong. Jin kafir ini sangat buruk rupanya. Anehnya, dialah yang membantu menyembuhkan berbagai penyakit. Apa yang terjadi sebenarnya...?

Agus adalah pemuda agak urakan. Karena kebiasaannya suka keluyuran dan minum-minuman beralkohol, membuat dia kurang disukai teman sekerjanya. Namun, semua sikap yang tidak terpuhi itu akhirnya berubah setelah dia mengalami peristiwa yang menakjubkan dan menakutkan.

Ya, peristiwa itu memang akan membuat semua orang berdiri bulu romanya. Kepada Penulis, Agus menceritakan pengalamannya....

Kejadiannya berlangsung di tahun 90-an silam. Tepatnya ditahun 1994. Saat itu Agus memanfaatkan waktu cutinya untuk main ke daerah Kubangputat, Kecamatan Tanjung., Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Di tempat itu dia mengunjungi temannya, Sucipto, seorang yang juga mengerti tentang hal-hal gaib.

"Sebenarnya aku kurang yakin dengan segala macam ilmu gaib, terutama ilmu untuk bisa melihat makhluk halus," kata Agus, ketika malam itu dia dan Sucipto berbincang-bincang mengenai hal gaib. Mendengar pendapat temannya iini Cipto hanya tersenyum.
"Kalau memang ilmu gaib itu ada, aku ingin belajar tetapi yang benar-benar ada buktinya," tegas Agus lagi.
"Tapi syaratnya sangat berat, Gus!" Ujar Cipto.

Agus kelihatannya tidak peduli dengan segala syarat. Walau seberat apapun, dia bertekad akan melakukannya, yang penting dia benar-benar bisa membuktikan keberadaan dunia gaib. Akhirnya Cipto memberikan amalan kepada Agus. Syarat yang harus dilakukannya disamping meninggalkan 5 M (mabuk, maling, madon, madat dan main), juga yang terberat adalah harus melaksanakan sholat lima waktu.
"Kalau hanya itu syaratnya, baiklah aku akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh!" Tandas Agus.

Rupanya, Agus bisa menarik nafas lega sebab syarat yang dikatakan berat itu hanyalah meninggalkan 5 M dan melaksanakan Sholat 5 waktu. Sebelumnya dia mengira adalah seperti Puasa Pati Geni atau Puasa Pendem, atau yang sejenisnya.

Dengan tersenyum pula Cipto menerangkan bahwa melaksanakan syarat itu adalah sangat berat karena dari 90% penduduk Indonesia yang bisa melaksanakan itu tidak ada separuhnya, bahkan mungkin hanya seperempatnya saja yang bisa sempurna melaksanakannya.

Maka sejak itu, atau sepulangnya Agus dari Brebes, dia jadi rajin sholat dan meninggalkan kebiasaannya minum-minuman. Tentu saja hal ini membuat teman-temannya menjadi heran. Apalagi melihat Agus yang tak lagi gemar keluyuran malam, malahan justeru jadi rajin duduk bersila di atas sajadah. Keinginan Agus untuk membuktikan keberadaan dunia gaib memang sangat besar, hingga dia benar-benar tekun menjalankan amalan yang diberikan Cipto.

Sebenarnnya, semenjak Agus sering sholat malam sudah terjadi kejadian-kejadian aneh atas dirinya, hanya Agus saja yang tidak menyadarinya. Padahal, di antara teman-teman Agus, banyak yang menyaksikan keanehan ini. Kejadian aneh itu di antaranya ketika salah seorang teman Agus penasaran kepada apa yang sedang dilakukan Agus di dalam kamarnya, karena tidak biasanya dia malam-malam berada di dalam kamar. Ketika teman Agus itu mengintipnya, tiba-tiba datang angin puyuh yang entah datang dari mana datangnya, melemparkan orang sedang mengitip ini, hingga terjengkal dan langsung lari tunggang langgang dari kamar Agus.

Hal yang sama juga terjadi ketika Agus mandi di kantornya. Saat temannya akan mandi karena ada Agus, maka temannya itu menunggu giliran. Saat menunggu giliran itulah teman Agus itu melihat dari pakaian Agus yang digantungkan tiba-tiba keluar ular. Tentu saja sang teman sangat terkejut. Tetapi sebelum hilang rasa terkejutnya, dari pakaian Agus lagi muncul sepotong kepala manusia hitam dan besar, sangat mengerikan. Tentu saja temannya ini langsung menjerit dan lari.

Kejadian ini tentu saja membuat geger di kantor tempat Agus bekerja. Sedangkan Agus yang mendengar teriakkan itu segera keluar dari kamar mandi dan terbengong-bengong karena ada jeritan seseorang di dekat tempatnya berada, tetapi dia tidak menemukan atau melihat apa-apa yang menakutkan.
S
esuai dengan petunjuk Sucipto. Agus berhasil menyelesaikan puasanya selama tiga hari dengan amalan-amalannya yang lengkap. Semuanya dia laksanakan dengan benar. Tinggal sekarang Agus ingin mencoba membuktikan apakah amalannya berhasil atau tidak. Hal yang dilakukannya adalah dengan jalan membuka mata batinnya agar bisa melihat sesuatu yang gaib, yang selama ini memang benar-benar ingin dilihatnya.

Kebetulan saat itu di lokasi tempat Agus bekerja sedang geger karena keangkeran di salah satu sudut gudang perusahaan. Di tempat ini sering terjadi ada karyawan yang tiba-tiba jatuh dan kejang-kejang tanpa sebab. Setelah berhasil disembuhkan oleh orang pintar, orang yang mendadak kejang-kejang itu bercerita bahwa tadi saat kepingin kencing dan tidak tertahan lagi, sehingga dia kencing di sudut gudang itu. tetapi begitu selesai kencing tiba-tiba seperti ada yang menyergap dari belakang dan kemudian keadaan berubah jadi gelap.

Dari kejadian yang sering kali berlangsung itu menggugah keinginan Agus untuk mencoba ilmunya, yaitu dengan cara mengajak bertemu makhluk halus penunggu gudang dimaksud.

Beberapa malam sudah dijalani Agus tetapi kelihatannya belum ada hasilnya. Ilmu yang diamalkannya dengan tekun sepertinya tidak menghasilkan apa-apa. Mungkin hanya lelah yang dia dapatkan. Diam-diam, dia merasa kesal juga pada temannya, Sucipto. Namun, saat dia memprotes, Sucipto menyarankan agar Agus terus berusaha membuktikan ilmunya. Ternyata benar. Setelah tujuh malam berturut-turut mengirim hadroh atau bacaan surat Al-Fatehah kepada penunggu gedung, akhirnya timbul suatu kejadian yang sangat aneh.

Saat itu ada salah seorang rekan sekerja Agus yang kembali terkena gangguan makhluk halus atau lebih dikenal dengan kesurupan. Badannya kaku seperti kayu, bahkan sukar sekali untuk digerakkan, sehingga hanya bisa berbaring saja. Sudah dilakukan segala macam upaya dari dokter-dokter perusahaan, bahkan orang-orang pintar sudah dimintai tolong. Tetapi tetap tidak bisa menyembuhkan penyakit itu. Sampai tiba-tiba si sakit mendapat mimpi bahwa yang dapat menyembuhkan penyakitnya adalah bukan siapa-siapa tetapi Agus, temannya sendiri.

Agus diminta untuk mengobati si sakit. Mulanya hal ini membuat Agus heran, bahkan dia merasa seperti dipermainkan. Namun, Agus sempat berpikir, apa ini salah satu bukti dari amalan yang selama ini dikerjakannya, agar dirinya yakin akan apa yang selama ini diamalkannya? Setelah berpikir demikian maka Agus pun bersedia ikut ke rumah Herman, temannya yang dijangkiti penyakit aneh itu.

Ketika Agus sampai di depan rumah Herman, dia sekilas melihat seorang nenek-nenek dengan bentuk aneh dan agak samar-samar. Si nenek kemudian tersenyum kepada Agus, dan sekejap kemudian melesat pergi.
"Eh, tadi kamu melihat nenek-nenek di depan pintu itu, nggak?" Agus mencoba bertanya kepada temannya, mengenai apa yang baru dilihatnya.
"Tidak, aku tidak lihat apa-apa!" Jawab sang teman dengan dahi berkerut.

Mendengar jawaban ini, Agus berpikir bahwa apa yang dilihatnya barusan mungkin hanya halusinasinya belaka. Dengan mengucapkan salam, dia akhirnya menemui Herman.Saat itu, Herman masih terlentang kaku. Hanya matanya yang bisa melirik Agus.
"Jangan khawatir, kamu pasti sembuh, Man!" Agus mencoba memberi semangat. Hal ini dijawab Herman hanya dengan kejapan mata dan senyum yang pahit.

Setelah memeriksa kondisi Herman, dengan menuruti instink semata kemudian Agus menekan jempol kaki kanan Herman, lalu membaca amalan yang selama ini diwiridzkannya. Lalu ditiupkannya ke ubun-ubun Herman. Setelah itu Agus minta segelas air. Seperti lagak seorang dukun yang berpengalaman, padahal Agus juga heran sebab sepertinya dia sudah biasa melakukan pengobatan, Agus berniat menyembuhkan herman dengan air putih ini. Namun, belum sampai Agus memberikan doa atas segelas air putih yang dimintanya, tiba-tiba hadirin dikejutkan oleh suara Herman yang tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya.
"Eh, ada Agus. Sudah lama datang, Gus?"

Mendengar suara itu tentu saja yang hadir di situ menjadi terpukau. Ya, bagaimana tidak! Herman yang sebelumnya tidak bisa menggerakkan anggota badannya itu tiba-tiba bisa bangkit dan berbicara seolah-olah tidak pernah mengalami sakit sebelumnya.

Sejak peristiwa itu, daerah tempat tinggal Agus gempar dengan munculnya dukun tiban, atau orang pintar baru. Banyak orang datang ke rumah Agus dengan maksud untuk meminta tolong, mulai dari orang-orang sekitarnya sampai mereka yang berasal dari luar kota.

Apa yang sebenarnya terjadi pada diri Agus? Sebenarnya, saat melakukan penyembuhan Agus mengalami kejadian aneh. Setiap dia mengobati serasa dia melihat kembali nenek-nenek misterius yang pertama kali dilihatnya di teras rumah Herman, yang kemudian menghilang. Celakanya, semakin banyak Agus menolong orang, dan semakin hari pula, penampakan nenek-nenek ini semakin jelas saja, bahkan berubah sangat mengerikan dan menakutkan bagi Agus. Herannya, hanya Agus saja yang bisa melihat wujudnya.

Hingga pada suatu hari Agus benar-benar dengan jelas bisa melihat wujudnya. Makhluk misterius itu benar seorang nenek berumur sekitar 70 tahun, dengan pakaian hanya kain melilit pada bawah pusar hingga ke bawah selangkangan. Sedangkan bagian pusar ke atas tanpa tertutup sehelai benang pun, hingga payudaranya yang panjangnya tidak lumrah itu dibiarkan terbuka. Dan lebih mengerikan lsgi, nenek itu penuh dengan belang-belang hitam hampir di seluruh tubuhnya, sehingga bagaikan seekor harimau.

Penampakan si nenek belakangan hari juga tidak hanya sekilas, dan tidak hanya berlangsung di Agus mengobati pasiennya. Tetapi semakin sering. Bahkan nenek itu selalu mengikuti Agus kemanapun dia pergi. Baik di jalan, di kantor, bahkan di kamar mandi. Tak perduli siang atau malam. Anehnya, hanya bila Agus masuk ke kamarnya saja nenek itu tidak ikut masuk, tetapi hanya mondar-mondir di depan pintu.

Kejadian ini tentu saja membuat Agus ketakutan setengah mati. Apalagi bila malam hari, saat Agus kepingin ke kamar mandi untuk sekedar buang hajat kecil, maka jelas dia tidak berani karena nenek itu tetap menunggunya di depan pintu kamar.

Pernah dengan nekat Agus bertanya kepada si nenek yang misterius itu, sebenarnya siapa dia dan apa maksudnya mengikuti dirinya terus? Jawaban si nenek membuat badan Agus lemas seperti tak bertenaga.

Jawaban mengerikan yang didahului dengan suara tawa si nenek itu memang membuat Agus tak hanya ketakutan, tapi sekaligus juga terperangah heran. Si nenek mengaku bahwa dirinya adalah makhluk penunggu gudang di pabrik tempat agus bekerja, yang tempo hari berulang kali dipanggil olleh Agus lewat ritualnya. Si nenek mengaku bernama Nini Growong.

Dia mengikut Agus terus, karena Agus sendiri yang memulainya, yakni dengan mengirimkan bacaan Fatehah. Perlu kita ketahui, bacaan Alqur'an pun jika membacanya dengan tujuan tertentu dan hitungan tertentu adalah hal yang tidak pernah ada contohnya, kesempatan ini yang digunakan jin dengan rupa nini growong untuk menyesatkan Agus, berharap dia mendapat sesuatu dari tuannya. Tentu saja Agus yang setiap hari selama tujuh malam mengirimkan bacaan fatehah kepada penunggu gudang yang ternyata bernama Nini Growong itu, merasa senang berteman dengan Agus hingga saking senangnya sampai selalu mendampingi Agus. Bahkan di manapun dia berada.

Tidak hanya itu, bahkan Nini Growong memberikan amalan kepada Agus yang mana amalan tersebut jika diamalkan akan mendatangkan rejeki yang melimpah. Anehnya, amalan itupun bacaannya diambil dari ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Tetapi bagaimanapun Agus adalah masih manusia biasa yang masih mengenal rasa takut. Apalagi kepada bangsa halus semacam Nini Growong, yang rupanya sungguh buruk tercela. Meskipun dia selalu berbuat baik, namun Agus bertekad untuk mengakhiri hubungannya dengan makhluk tersebut. Maka dengan tekad yang bulat, Agus minta cuti untuk pergi ke Brebes guna kembali menemui Cipto.

Anehnya, ketika Agus pergi ke tempat Cipto pun Nini Growong masih tetap mengikutinya. Hanya setelah Agus sampai di perbatasan Cirebon-Brebes, tiba-tiba Nini Growong raib. Entah mengapa? Aguspun tidak tahu.

Sesampai di rumah Cipto, Agus langsung menceritakan pengalamannya seraya mohon agar kejadian yang dialaminya bisa segera dihentikan. Mendengar cerita Agus, Cipto hanya tersenyum.
"Kamu ini lucu, beberapa waktu yang lalu kamu ingin membuktikan bahwa dunia gaib itu tidak ada. Tapi sekarang setelah kamu sudah membuktikan malah ingin dihentikan. Apa tidak nyesel? Karena banyak lho orang yang ingin seperti kamu tapi belum bisa berhasil. Nah, kamu termasuk orang yang beruntung!"

Meski Cipto mengatakan demikian, namun Agus tidak peduli. Dia tetap ingin agar kemampuannya melihat wujud yang gaib ditutup, tetapi kalau masalah kemampuannya menyembuhkan orang kalau bisa tetap bisa dimilikinya.

Sebelum mengabulkan permintaan Agus, Cipto menceritakan kejadian yang sebenarnya dari peristiwa yang dialami Agus. Menurutnya, setelah menerima kiriman Fatehah dari Agus, Nini Growong merasa ditemani Agus karena selama ini keberadaannya dalam gudang selalu sendirian, hingga sebagai balasannya Nini Growong selalu mendampingi Agus untuk membantu segala kesulitan Agus, terutama saat menangani pasiennya. Nini Growong-lah yang menjadikan Agus sebagai Dukun Tiban.

Namun sebenarnya penyakit yang diderita oleh para pasien Agus adalah Nini Growong sendiri yang membuatnya, dan dia juga yang menyembuhkan lewat tangan Agus. Ya, namanya juga bangsa Jin ingin membalas budi tetapi caranya tetap merugikan manusia juga. Dengan demikian, bukan Agus yang bisa menyembuhkan pasiennya tetapi ulah Nini Growong.

Sementara itu, masalah amalan yang berasal dari Nini Growong itu walaupun sepertinya berasal dari ayat-ayat Al Qur’an, menurut Cipto tetap jangan dilaksanakan karena bisa menyimpang dari akidah. Kita harus selalu waspada akan tipu daya setan dan sekutunya.

Akhirnya, karena memang secara mental Agus belum siap menerima kelebihan yang diberikan oleh Allah, maka kemampuan Agus akan ilmu pengobatan itupun hilang. Yang terpenting, kini Agus tidak lagi melihat sosok Nini Growong yang menakutkan. Dan sejak saat itu pula Agus memulai kehidupan normalnya tanpa kembali melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat. Dan kewajibannya akan menjalankan sholat lima waktupun tidak reda. Semoga kisah ini bisa membuka wawasan kita bahwa alam gaib itu ada dan janganlah kita main-main dengannya karena bisa mengakibatkan hal-hal yang buruk bila kita kurang hati-hati. Semoga Allah selalu menyertai langkah-langkah kita, Amien.
  • Selasa, Juni 21, 2011
  • Administrator
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5wfXMDI7-GTR0GqyvdualyOHy_EkiwZpYHAbzoIng9eAW-zNT2iWGc1RNiDGLbpn4gEoH4HsM9HS818ZS0oYfREbgc5PLg80SZCQ4l7GDz6eZbTzNCoPz4_63oVq9Bq1mo-0PsMbs-n3k/s200/penjaga+pohon.jpgJika di Kaltim ada makhluk mistis berupa sepasang naga berkaki, lain lagi ceritanya di Kalbar. Khususnya di kalangan masyarakat Dayak di pedalaman, dikenal hewan mistis penghuni rimba raya sejenis harimau dahan.

Akan tetapi, ini bukan jenis satwa yang bisa dilihat semua orang. Kebanyakan hanya bisa mendengar suaranya berupa bunyi sayup “kung, kung, kung”, tetapi bergema dan menggetarkan.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalbar Blasius H Chandra mengenang, suara itu begitu menggetarkan jiwa sekaligus menyeramkan. Saat masa kecilnya, ia pernah mendengar suara itu di tengah malam kala bermalam bersama orangtua di pondok ladang.

“Tengah malam di pondok ladang, suasana sangat hening. Ada suara serangga dan juga desah angin. Nah, sesekali terdengar suara ‘kung, kung, kung’ yang sayup, tapi menggetarkan. Hingga sekarang, saya tak bakal lupa kesan itu,” ucap Blasius.

Bahkan, saat dirinya telah menjadi aktivis lingkungan, suara mistis itu masih pernah di dengarnya. Beberapa tahun lalu, saat berada malam hari di Bukit Sedayang, pedalaman Kabupaten Ketapang, suara itu kembali terdengar.

“Meski saya sudah hidup di abad modern, suara itu tetap menggetarkan. Apalagi sejak kecil, orangtua sudah menanamkan makna Sang Penjaga Alam itu yang kami sebut Kek Tung,” katanya.

Apakah satwa itu nyata? Menurut penuturan orangtua, Kek Tung menyerupai jenis harimau dahan, berkulit hitam, berbadan besar, dan bersuara menggema.

Apabila Kek Tung bersuara, berbagai isyarat bisa ditangkap oleh para penatua. Di antaranya isyarat buah-buahan di hutan akan melimpah atau sebaliknya panen ladang akan gagal atau serangan sampar.

“Saya yakin Kek Tung nyata sebagai bagian komponen alam. Kalaupun masyarakat menilainya mistis, itu sah-sah saja jika dikaitkan dengan kearifan tradisi,” ujarnya.

Suara Kek Tung hanya bisa didengar di kawasan hutan yang masih lestari, seperti rimba belantara yang belum terjamah tangan panas kapitalis.

Itu pula sebabnya di area hutan yang pernah terdengar suara Kek Tung, belum ada manusia yang berani merambahnya. Contohnya, Bukit Sedayang yang hingga kini masih dipenuhi oleh lebatnya buah durian, madu pohon, air jernih, udara segar, dan aneka hasil alam.

Kisah serupa juga ada di Kabupaten Sintang. Aktivis lingkungan kelahiran Sintang, Shaban Stiawan, mengaku pernah mendengar suara mistis itu di belantara rimba.

“Di daerah kami, masyarakat menyebutnya remaong. Saya pernah mendengar suaranya saat masih kecil. Hingga sekarang, saya masih ingat betul betapa merindingnya saya waktu itu,” kata Shaban.

Suara yang menggetarkan jiwa itu boleh jadi bakal sirna seiring eksploitasi hutan gila-gilaan di bumi Kalbar. Pandangan prokapitalis tak bakal melihat kelestarian alam secara utuh.

Buktinya, mereka tak segan-segan menggusur hutan adat, perkuburan, bahkan tembawang. Padahal, tembawang merupakan bekas kampung tua, yang di situ pernah ada kehidupan manusia lengkap dengan perkakas budaya, fungsi sosial, religius, dan tanam-tumbuh
  • Selasa, Juni 21, 2011
  • Administrator
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnarCL5Yu9xWjbst_8PE0XRQkIizklc5scMJ6HAQXESdWmNYH4RXSzOUyC_f84uNZFgvleASo_Ug690yth-ZYnKUMzkQzd_MyLaCYAZ2MAbzZ1A605SZ6HQl53ldFE7Jumw9Z_qpaSwUqW/s400/makam+siti+nurbaya.jpg
Makam tua yang diduga sebagai makam Siti Nurbaya di Gunung Padang, ternyata menyimpan sejuta kekeramatan. Sejumlah kejadian aneh pun terjadi di makam yang konon tempat persemayaman terakhir kekasih Syamsul Bahri itu.

Syahbudin Abas (43), warga sekitar, mengatakan makam yang diapit dua batu besar tersebut ditunggu oleh makhluk gaib. Penampakannya pun beragam, mulai dari kakek tua hingga manusia tanpa kepala.

Pria yang kerap disapa Bang Udin itu menceritakan, para peziarah yang melakukan pertapaan kerap diganggu oleh para penunggu. Mereka menilai gangguan itu sebagai ujian bagi para pertapa yang ingin impiannya terwujud.

“Tak jarang mereka yang pulang dari sana kesurupan, dan akhirnya harus kembali ke sini untuk disembuhkan,” kata pria yang memiliki ilmu kebatinan tersebut.

Pengalaman ritual pun pernah dialaminya pada 1979 lalu. Saat itu Bang Udin menjadi pengontrak kebun cengkeh dan termasuk orang kaya di kawasannya. Ketika itu datang kakek tua berjenggut putih memakai baju koko putih dan kain sarung petak-petak merah serta mengenakan kopiah warna hitam.

“Dia datang ke rumah meminta cengkeh, namun cengkeh itu harus diambilnya sendiri. Tentu kita tidak mau, namun ia ngotot. Setelah mengambil cengkeh segenggam, kakek itu pun berjalan untuk menjenguk pergi ke kuburan itu sambil berdoa,” tuturnya.

Ketika itu, sang kakek diantarkan oleh ayah mertuanya bersama anaknya. Setelah berdoa pria lanjut usia itu memberikan satu genggam buntalan kain pada anaknya dan menyuruh mereka pulang. Namun anak dan mertuanya tidak mau.

“Katanya dia akan menjenguk Malin Kundang jadi mereka pergi dulu, tapi tetap tak mau sehingga tetap berdiri di dekat kuburan itu. Tanpa banyak kata lagi kakek itu langsung menghilang begitu saja, anak saya terkejut atas kejadian itu,” paparnya.

“Dua tahun yang lalu ada dua orang pemuda datang ke sini, mereka meminta akan melakukan semedi di kuburan itu. Saya tanyakan ke mereka apakah mereka tak takut? Apakah mereka siap mental? Dan mereka menyatakan sudah siap,” tandasnya.

Sebelum melakukan ritual tersebut, kedua laki-laki itu melaksanakan salat maghrib di rumah Bang Udin. Setelah salat saya langsung mengantarkan mereka ke makam.

“Namun saat salat Isya, kedua pemuda itu turun dalam keadaan terengah-engah. Mereka menceritakan melihat orang tanpa kepala mendatangi mereka saat bersemedi, sehingga mereka lari,” katanya sembari tersenyum.

Ritual semedi marak saat musim undian toko gelap (togel). Untuk memperoleh keberuntungan, mereka rela bersemedi semalam suntuk agar mendapatkan nomor keberuntungan.

Sebenarnya kawasan itu memang memiliki tuah, tak hanya para petapa yang mengalami hal yang aneh anak muda seperti mahasiswa dan siswa yang rekreasi ke daerah itu kerap mengalami kejadian aneh.

“Sepulang dari sana ada yang sakit, kesurupan dan bahkan ada yang lupa ingatan. Mereka kembali datang ke sini untuk diobati, ya tentu kita terima untuk mengobati mereka,” ungkap Udin yang lupa sudah berapa banyak pasien yang diobatinya.

Bang Udin berkisah banyak penyebab mereka kesurupan, mulai karena bersikap sudah melewati kesopanan, ada juga yang berbahasa kotor dan melakukan mesum di lokasi ini.

“Kalau sudah seperti itu saya jamin penghuni Gunung Padang ini akan marah dan masuk ke tubuh mereka,” terangnya. Nah, jika datang ke Gunung Padang harus menjaga sikap terhadap kelestarian alam di daerah ini.
  • Selasa, Juni 21, 2011
  • Administrator
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgftfm280le0N0vdnaS_aCpb21LIBeh7a0KiWpQeYEZQRDkJly91y7RHYvYVE5QzNzL8EvhJWQ8avAvl6xLVvq-qlyV51lOt951NPxw052CTeNh48WOS4LW-wJAHpUCbH5uAkpg8ua-hGs/s200/ronggeng.jpgBeberapa tahun sejak kematian seorang wanita yang berprofesi sebagai penari, langit Desa Kolam begitu mencekam. Aroma gaib terendus di sekeliling sebuah makam tak bernisan di kawasan itu. Siapakah sebenarnya wanita penari itu?

Dan kenapa sejak kematiannya, masyarakat merinding saat menceritakan kisahnya ? Seorang warga di sana yang akrab disapa Man, mengakui kalau malam-malam tertentu mendengar dendangan musik tradisonal Jawa.

Suara musik itu sepertinya dimainkan oleh orang banyak (tidak 1 orang). Memang pernah diselidiki dan dicari asal suara musik tersebut, namun tak ditemukan siapa yang memainkan musik itu,ujar pria bertubuh gempal ini.

Musik yang mendayu-dayu juga diiringi suara seorang wanita. Suara itu terdengar sendu, yang terkadang merintih seperti kesakitan. Namun warga di sana sudah menganggap hal biasa dengan musik gaib itu.

Pada awalnya memang masyarakat di sini agak resah mendengar suara itu. Tapi sekarang sudah biasa. Bahkan beberapa tahun belakangan ini, suara yang mengalunkan musik tradisional itu sudah sangat jarang terdengar,kata Man yang mengaku, suara gaib dari seorang wanita itu, diyakini warga suara miliknya seorang penyanyi yang meninggal tragis.

Menurut Man, kisah kematian wanita yang dikenal dengan Nyai Ronggeng begitu mengerikan. Peristiwa itu terjadi puluhan tahun lalu. Saat Nyai Ronggeng menjadi idola kaum adam di kawasan tersebut. Bagaimana tidak, wanita berasal dari Jawa Barat ini memiliki paras menarik, didukung dengan bentuk tubuh yang aduhai.

Warga di sana mensyaki kalau Nyai Ronggeng menggunakan susuk untuk mendukung penampilannya. Tak ayal, ketika pertunjukkan dimulai, mata lelaki terus melotot memandang lekuk tubuh sang Nyai yang ba**noll. Dan sejak ada Nyai Ronggeng, grup pementasan lain pun sepi, sehingga muncul kecemburuan sosial.

Karena itulah, grup-grup lain menebar provokasi untuk menjatuhkan grup Nyai Ronggeng. Ada yang bilang, kalau wanita cantik itu menggunakan susuk untuk mensukseskan pementasan, sehingga membuat para lelaki, khususnya yang sudah menikah terpikat, bahkan sampai rela pulang larut malam untuk menyaksikan Nyai Ronggeng berjoget, beber Man.

Termakan isu dan bujuk rayu, warga di sana yang umumnya kalangan ibu rumah tangga, melakukan aksi unjuk rasa untuk menghentikan pementasan. Karena telah disusupi oleh provokator, aksi penolakan itu berakhir dengan sebuah tragedi yang mengerikan.

Nyai Ronggeng yang dituding sebagai dalang perusak pria, diarak ke sekeliling kampung. Karena tak juga puas, Nyai Ronggeng dibunuh dengan cara yang mengenaskan, tubuhnya dibelah menjadi beberapa bagian (mutilasi).

Kemudian wanita itu dikubur di perkebunan milik pemerintah, ujar Man sembari menambahkan, di atas makam Nyai Ronggeng diletakkan sebuah batu besar.
  • Selasa, Juni 21, 2011
  • Administrator
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCXSOVbALxqOZSm-QFQ-4-80hgwW-zuglX3OAMW0N6Pdg8ekuxNi3M5iaMbEFjlcV3-XU5Rl_KtoasubYN_7y4KZdiTYC5TDMjjIZEn7jdOg2W9129jDvjW0ZnBTDleE7HmQpLXtJAlKVy/s200/nasi+putih.gifPada sebuah senja 20 tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu di restoran sudah agak sepi.

Dengan segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut. "Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih." Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.

Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu segera menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih lantas dibayarnya sambil berkata dengan pelan : "dapatkah menyiram sedikit kuah sayur di atas nasi saya." Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum : "Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !" Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir : "kuah sayur gratis." Lalu bergegas dia memesan semangkuk lagi nasi putih.

"Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya." Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.

"Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan saya bawa ke sekolah sebagai makan siang saya !" Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin di luar kota, demi menuntut ilmu datang ke kota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.

Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan di bawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Demo melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan di bawah nasi? Suaminya kemudian membisik kepadanya : "Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah."

"Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya pula."
"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?"

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain. "Terima kasih, saya sudah selesai makan." Pemuda ini pamit kepada mereka. Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.

"Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !" katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi. Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.

Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini menyelesaikan pendidikannya, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.

Pada saat itulah masuk seorang pemuda yang mengaku wakil direktur dari sebuah perusahaan, sambil berkata, "saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan."

"Siapakah direktur kamu nak, mengapa begitu baik terhadap kami? bolehkah saya mengenalnya " sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.

"Kalian adalah dewa penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami sering sekali bercerita jika beliau paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya."

Sambil membawa rasa penasaran yang teramat sangat, berangkatlah suami istri baik hati tersebut ke perusahaan yang dimaksud. Setelah sekian lama menunggu dilobby kantor. Akhirnya datanglah seorang paruh baya dengan pakaian rapi, wangi dan parlente. Kewibawaan terlihat dari raut mukanya.

Pemuda ini membungkuk seraya memberi hormat kepada kedua suami istri tersebut, yang semakin menambah keheranannya. Bukankah seharusnya mereka yang memberi hormat pada pemuda itu sebagai rasa terimakasih yang telah mengundang mereka untuk berjualan dikantin perusahaan?

Ditengah keheranan itu berkatalah sang pemuda " Ingatkah kalian masa 20 tahun lalu pernah ada seorang pemuda yang sering mondar mandir didepan restoran kalian, menunggu sampai restoran sepi dan hanya memesan makanan semangkuk nasi putih yang selalu kalian selipkan telor dan sepotong daging dalam pesanannya? Ini adalah balasan buat kalian. Sayalah pemuda itu.

Ya, Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka : "Kalian harus tetap bersemangat ! di kemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !"
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkYCmFXX7u0oWvCCuLM93rUCNxyrKu85YQ8QqwZHut_jiAdva12Rx-ovJ3gBQDD8tF6RrZSP77V1zfJFK46nHlf2OWf2Et2_vCn7W7Gh_OhgzFqOe0n79l4uVqpQ908yWF-K0nUvJ8OmJz/s1600/sabar2.jpgDIKUTIP.COM - Delapan tahun yang lalu saya masih melihat laki-laki paruh baya itu berjalan keliling kampung sambil mendorong gerobak untuk berjualan Tekwan (salah satu makanan khas palembang). Tanpa disadari kulitnya menghitam terbakar sinar matahari, kedua kakinya terlihat lusuh dengan sandal jepit yang hampir putus. Jika dagangan Tekwan nya mulai sepi laki-laki itu pun beralih menjual Bakso. Begitu seterusnya yang dia lakukan untuk bertahan hidup demi memberi makan istri dan ke lima anaknya.
Salah satu anak laki-laki nya adalah teman bermain saya waktu kecil, saya masih ingat beberapa teman saya terkadang meledek profesi ayahnya sebagai pedagang keliling yang berganti-ganti profesi. Saya bisa membayangkan perasaannya saat mendengar ayahnya dicemooh, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan tersenyum getir.
Liburan akhir tahun 2008 saya manfaatkan untuk benar-benar berlibur dan merefresh pikiran yang sempat kalut dan gundah. Sore itu badan saya terasa pegal, dan saya minta tolong kepada saudara saya untuk dicarikan tukang urut. Saudara sayapun bilang “…ada tukang urut yang Ok, kalau mau jam 5 sore ini dia dateng…” sayapun menyanggupinya.
Akhirnya tukang urut yang dijanjikan saudara saya datang. sahabat…saya tercekat melihat laki-laki yang ada dihadapan saya, ternyata dia adalah ayah dari teman saya, laki-laki paruh baya yang dulu pedagang keliling kampung. Subhanallah…Saya menyalaminya, saya masih bisa mengenal dengan jelas wajahnya, tapi mungkin dia sudah lupa dengan saya. Sambil mengurut saya kami berbincang-bincang, lalu saya bertanya dengan sangat hati-hati :
Saya : “Maaf kak, gimana ceritanya bisa menjadi tukang urut ? “
Dia : sambil tertawa ” Ini cobaan lagi dari Tuhan, kakak sendiri sudah lupa ini cobaan yang keberapa…dan kakak tidak tahu setelah jadi tukang urut kakak mau jadi apa lagi …”
Saya : Kok gitu kak ?
Dia : Sebenarnya kakak sudah bosan dengan segala cobaan, tapi ternyata tuhan ingin menyadarkan kakak dan menunjukkan kekuasaan Nya.
Saya : Maksudnya ?
Dia : Dengan banyaknya cobaan, kakak jadi sering mengeluh…tapi kakak tidak pernah mengeluh kepada istri atau kepada orang lain, kakak hanya mengeluh kepada Tuhan…kakak selalu memohon agar diberi pekerjaan yang baik dan halal…”
Saya : Tuhan denger ga’ ?
Dia : kakak yakin Tuhan mendengar, buktinya kakak sekarang jadi tukang urut.
Saya : Letak kekuasaannya dimana ?
Dia : Suatu hari saat kakak lagi dagang keliling, ada orang yang terkena musibah, kakinya tertimpa kayu iseng-iseng kakak nawarin diri buat ngurut, eh…ternyata dalam 2 hari kakinya sembuh, dan sejak itu banyak orang yang minta di urut sama kakak , termasuk kamu dek … jawabnya sambil kami tertawa.
Keesokan harinya saya menyempatkan diri keliling kampung melihat-lihat suasana, suasana kampung yang tidak saya jumpai di kota tempat saya bekerja. Di depan sebuah lorong jalan saya sempat berhenti sebentar saat melihat sebuah bangunan rumah . Delapan tahun yang lalu rumah itu tampak reot, namun sekarang rumah iu sudah berubah menjadi rumah yang bagus, itulah rumah laki-laki pedagang keliling yang kini sudah berubah menjadi lebih baik kehidupannya… Tuhan memang selalu mendengar keluhan umatnya yang mengeluh kepadanya…
Mungkinkah selama ini kita sudah salah memilih tempat mengeluh ?

 GO
  • Selasa, Juni 21, 2011
  • Administrator
'Jackass' star Ryan Dunn dies in crash
Ocimnet - Ryan Dunn, one of the stars of MTV's "Jackass," has died in a car crash. He was 34.

NBC Philadelphia reports that Dunn and another passenger died in a 3 a.m crash at Route 322 and New Street in West Goshen Township, Pennsylvania.

The news of the death was confirmed by April Margera, mother of "Jackass" star Bam, in an interview with a local radio show. TMZ also confirmed with Margera.

Dunn posted to Twitter a photo of himself drinking with friends just hours before the crash.

A police report indicated that Dunn was most likely speeding in his 2007 Porsche 911 GT3, which was destroyed in the wreck. "Upon arrival, police located one vehicle in the road and in the woods that was fully engulfed in flames," the report said. "DUI" was not indicated in the report.

So often fearless, Dunn was known for so many stunts, including his parts in crashing golf carts and placing a toy car, in a condom, up his rectum in the original "Jackass" film. His "Jackass" co-star Johnny Knoxville spoke of his devastation at the news on Twitter.

"Today I lost my brother Ryan Dunn. My heart goes out to his family and his beloved Angie. RIP Ryan , I love you buddy. http://say.ly/hUnqQQ," he wrote.

[via - huffingtonpost]
  • Selasa, Juni 21, 2011
  • Administrator
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_LuZ7TIf5H5PA2bzgw5Ab2lbykZsQCnZUZPyGJiOBriYWOBX8vAr6r6eiVsOFzr_VYAMfQU7xzM9g_lgPhPWSr-s6WppIwt0I8TGh3LfxmPcliGTnlIBwaCtpyjQfnasfVYzHDXF75Ck/s200/sepasang+mata+sahabat.jpg
“Persahabatan bukan hanya sekedar kata, yang ditulis pada sehelai kertas tak bermakna, tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci, yang ditoreh diatas dua hati, ditulis dengan tinta kasih sayang dan suatu saat akan dihapus dengan tetesan darah dan mungkin nyawa”
“Key…sini dech cepetan, aku ada sesuatu buat kamu”, panggil Nayra suatu sore. “Iya, sebentar, sabar dikit kenapa sich?, kamu kan tahu aku gak bisa melihat”, jawab seorang gadis yang dipanggil Key dari balik pintu.
Keynaya Wulandari, begitulah nama gadis tadi, meskipun lahir dengan keterbatasan fisik, dia tidak pernah mengeluh, semangatnya menjalani bahtera hidup tak pernah padam. Lahir dengan kondisi buta, tidak membuatnya berkecil hati, secara fisik matanya tidak bisa melihat warna-warni dunia, tapi mata hatinya bisa melihat jauh ke dalam kehidupan seseorang. Mempunyai hoby melukis sejak kecil, dengan keterbatasannya, Key selalu mengasah bakatnya. Tak pernah sedikitpun dia menyerah.
Duduk di bangku kelas XII di sebuah sekolah Luar Biasa di kotanya, Keynaya tidak pernah absen meraih peringkat dikelas, bahkan guru-gurunya termotivasi dengan sifat pantang menyerah Key. Sejak baru berusia 3 tahun, Keynaya sudah bersahabat dengan anak tetangganya yang bernama Nayra Amrita, Nayra anak seorang direktur bank swasta di kota mereka. Nayra cantik, pinter dan secara fisik Nayra kelihatan sempurna.
Seperti sore ini, Nayra sudah nangkring di rumah Key. Dia berbincang-bincang dengan Key, sambil menemani sahabatnya itu melukis. “Key, lukisan kamu bagus banget, nanti kamu ngadain pameran tunggal ya, biar semua orang tahu bakat kamu”, kata Nayra membuka pembicaraan. “Hah”, Key mendesah pelan lalu mulai bicara, “Seandainya aku bisa Nay, pasti sudah aku lakukan, tapi apa daya, aku ini tidak sempurna, seandainya aku mendapat donor kornea, dan aku bisa melihat, mungkin aku bahagia dan akan mengadakan pameran lukisan-lukisanku ini” ucap Keynaya dengan kepedihan.
“Suatu hari nanti Tuhan akan memberikan anugrahnya kepadamu, sahabat, pasti akan ada yang mendonorkan korneanya untuk seorang anak sebaik kamu,” timpal Nayra akhirnya. Berbeda secara fisik, tidak pernah menjadi halangan di dalam jalinan persahabatan antara Nayra dan Keynaya, kemana pun Nayra pergi, dia selalu mengajak Key, kecuali sekolah tentunya, karena sekolah mereka berdua kan berbeda. Sedang asik-asiknya dua sahabat ini bersenda gurau, tiba-tiba saja Nayra mengeluh, “aduuh, kepala ku”
“Kamu kenapa Nay, sakit??” tanya Keynaya. “Oh, tidak aku tidak apa-apa Key, Cuma sedikit pusing saja”, ucap Nayra sambil tersenyum. “Minum obat ya Nay, aku tidak mau kamu kenapa-napa, nada bicara Key terdengar begitu khawatir. “aku ijin pulang dulu ya Key, mau minum obat” ujar Nayra sambil berpamitan pulang.
Di kamarnya yang terkesan sangat elegan, nuansa coklat mendominasi di setiap sudut ruangan, Nayra terduduk lemas di atas ranjangnya, “Ya Tuhan, berapa lama lagi usiaku di dunia ini?? Berapa lama lagi malaikatmu akan menjemputku untuk menghadapmu?” erang hati Nayra. Di vonis menderita leukimia sejak 7 bulan lalu dan tidak akan berumur lama lagi sungguh menyakitkan bagi Nayra, usianya yang baru 18 tahun, dengan segudang cita-cita yang dia inginkan, sudah pasti tak satupun akan terwujud.
Pintu kamar Nayra tiba-tiba terbuka, seorang wanita cantik paruh baya masuk lalu duduk disampingnya. “Gimana rasanya sayang? Masih tidak enak?? Kita ke dokter sekarang yuk!!!” ujar wanita itu dengan lembutnya. “tidak usah, ma, aku sudah enakan kok, aku cuma mau beristirahat saja”, jawab Nayra dengan sopan. “ya sudah kalau begitu, mama tinggal dulu ya, istirahat ya, Nak,” ujar sang mama sambil mencium kening putri semata wayangnya. “Makasih ma, aku selalu sayang mama,” lirih Nayra berujar. Terus terang Nayra sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya, tapi dia berusaha menyembunyikan itu dari orang tuanya.
Di ruang keluarga, ibu Rita, duduk sambil menemani sang suami sepulangnya dari kantor, “Ma, Nayra kemana?? Kok papa tidak melihatnya dari tadi?” tanya sang suami. “Nayra lagi istirahat pa, dia pusing dan mengeluh sakit dari tadi”, jawab Rita. “Sakit apa sebenarnya anak kita ma?? Kalau kita ajak ke dokter dia selalu menolak, papa rasa ada yang dia sembunyikan dari kita, aku takut penyakitnya parah,” dengan nada khawatir pak Artawan bicara dengan istrinya. “entahlah pa, mama juga bingung” ujar istrinya lagi.
Ternyata sakit yang dirasakan Nayra sore itu adalah pertanda dia akan segera di panggil menghadap Tuhan, saat minta ijin untuk istirahat pada mamanya, kesehatan Nayra benar-benar drop, dengan panik kedua orang tua Nayra melarikan putrinya ke rumah sakit, setelah mendapat penanganan oleh tim dokter, Nayra sedikit terlihat tenang, namun mukanya terlihat pucat, sinar matanya terlihat begitu redup. “Pak Artawan, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya”, kata dokter Gunawan, yang juga merupakan dokter pribadi keluarga Artawan. “Baiklah dok, “ sambut pa Artawan.
Setelah pak Artawan dan ibu Rita duduk di ruangan dokter Gunawan, mereka akhirnya mulai bicara, “Maafkan saya sebelumnya pak, sebenarnya saya sudah tahu penyakit yang diderita putri bapak sejak 7 bulan lalu, tapi karena putri bapak menyuruh saya merahasiakan penyakitnya kepada bapak dan ibu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Putri bapak terkena leukimia,” ujar dokter Gunawan lirih.
Cukup lirih memang kata-kata dokter Gunawan, tapi mampu membuat jantung pak Artawan dan istrinya berdetak lebih cepat dari biasanya, “Apa?? Leukemia? Separah apa dok??” keras nada suara pak Artawan. “sudah parah pak, umur Nayra tidak akan lama” sambung dokter kembali.
Setelah berbicara lama dengan dokter, air mata tak pernah berhenti mengalir di pipi Rita. Dia begitu terpukul mendengar putrinya menderita penyakit itu. “udah, ma, jangan nangis terus, pengobatan Nayra akan diusahakan, kita akan mengusahakan kesembuhannya, lebih baik kita berdoa, semoga Tuhan memberikan jalan terbaik buat keluarga kita”, hibur pak Artawan. “mari kita tengok Nayra!!” ajaknya lagi.
Memasuki ruangan perawatan, ibu Rita berusaha menyembunyikan air matanya, dia tersenyum penuh kepedihan di samping ranjang putrinya, “Mama, kenapa? Kok sedih begitu?” ujar Nayra lirih. “tidak apa-apa sayang”, berbisik ibu Rita tak kuasa menahan air matanya. “Maafkan Nayra, Ma, Pa, Nayra tak bermaksud membuat Mama dan Papa terluka seperti ini, Nayra hanya tak ingin menyusahkan kalian” Nayra berkata dengan terbata-bata.
Belum ada beberapa menit pak Artawan dan ibu Rita di kamar putrinya, tiba-tiba Nayra kejang-kejang. Dengan panik pak Artawan memanggil dokter Gunawan. Dokter Gunawan menangani Nayra lumayan lama, hingga akhirnya dokter Gunawan keluar, muka beliau kelihatan sangat sedih. “Bagaimana anak saya, dok?” tanya pak Artawan.
“Maaf pak, kami disini sudah berusaha yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain, Nayra sudah dipanggil menghadapNya” ucap dokter. “Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk”, teriak ibu Rita isteris, “Nayra tidak mungkin meninggal, Nayra masih hidup,” seluruh pengunjung rumah sakit menoleh ke arah mereka. “Pak, sebelum meninggal, Nayra menitipkan ini ke saya, ini buat bapak dan ibu” imbuh dokter Gunawan sebelum mohon diri.
Sepeninggal Dokter Gunawan, pak Artawan dan istrinya membuka amplop kecil dari Nayra, isinya ternyata surat.
Mama, papa, maafin Nayra sudah membuat mama dan papa jadi sedih, Nayra mohon sama mama dan papa, setelah Nayra meninggal, tolong berikan kornea mata Nay untuk Keynaya, tapi jangan bilang itu dari Nayra sebelum Keynaya benar-benar operasi dan bisa melihat lagi, dan satu lagi, mama tolong kasih Keynaya surat yang Nayra simpan di laci meja belajar Nayra yang amplopnya berwarna pink setelah Keynaya melihat nanti, dan surat buat mama dan papa ada di dalam amplop biru di laci yang sama. Sekian dulu Mama, papa, maaf kalau Nayra selalu ngerepotin kalian, Nayra sayang kalian, big kis & hug..muacch
Nayra Amrita
Selain sepucuk surat itu, ada lagi sebuah surat pernyataan pendonoran kornea mata yang telah lengkap dengan tanda tangan Nayra. Hati orang tua Nayra tersayat, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain memenuhi permintaan terakhir sang anak.
Sementara itu, di rumah Keynaya, tampak gadis cantik itu tengah duduk seorang diri di teras rumahnya. Wajahnya tampak sedikit murung, “kemana si Nayra, sudah lebih dari 5 hari dia tidak main ke sini, apa dia baik-baik saja?” gumamnya.
“Ma, Nayra pernah kesini gak dalam beberapa hari ini?” tanya Keynaya ke pada mamanya.
“Tidak ada, Key, memang kenapa?” tanya sang mama.
“Gak apa-apa ma, aku ke rumah Nayra sebentar ya!!” Key meminta ijin ke mamanya.
Tapi diluar dugaan, mama Keynaya melarangnya pergi. “Jangan Key, kita harus ke rumah sakit sekarang juga, tadi mama ditelepon sama pihak rumah sakit, katanya ada yang menyumbangkan korneanya khusus untuk kamu,” dengan tutur kata yang lembut mamanya menjelaskan. “Yang bener, Ma? Key sudah dapat donor kornea?? Asik-asik, Key akan segera bisa melihat wajah Nayra, Key bisa segera menggelar pameran lukisan,” ucap Key berapi-api.
“Iya nak” jawab mamanya penuh kepedihan. “seandainya kamu tahu sayang, Nayra tak mungkin ada disamping kamu lagi, Nayra sudah tenang dialam sana, dan seandainya kamu tahu siapa orang yang mendonorkan korneanya untuk kamu” kata ibu Rasti dalam hati.
Waktu berjalan begitu cepat, operasi cangkok kornea sudah dilaksanakan dan sekarang adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Keynaya, perban di matanya akan di buka, tim dokter beserta kedua orang tua Key sudah ada di ruangan Key. Sebelum perbannya di buka, Keynaya berujar, “Ma, Pa, Nayra sudah datang?? Ku ingin sekali ada Nayra di sini pas aku bisa melihat” “belum sayang, Nayra masih diluar kota” pedih rasanya hati ibu Rasti saat berujar.
Perban akhirnya di buka, samar-samar penglihatan Keynaya mulai melihat warna, melihat sosok kedua orang tuanya, dia tersenyum, semakin lama semakin jelas, “Mama, papa aku bisa melihat kalian,” gembira sekali suara Keynaya.
Sudah 1 minggu semenjak Keynaya bisa melihat, hari ini dia memaksa ibunya agar diperbolehkan melihat Nayra, mengujungi Nayra, “Kata mama Nayra sudah ada di rumah, berarti Key boleh main donk Ma, Key pingin ngajak Nayra jalan-jalan buat merayakan kesembuhan Key,” “Iya, nak, mama sama papa temenin kamu ya!!”
Berbeda beberapa rumah antara Nayra dan Keynaya merupakan hal yang membahagiakan, tidak perlu capek-capek bermacet-macet ria di jalanan untuk mengunjunginya. Sesampai di rumah Nayra mereka disambut ramah oleh keluarga Nayra yang kebetulan lagi ada di rumah.
“Selamat sore tante Rita’” sapa Keynaya dengan senyum sumringah. Setelah di persilahkan duduk dan menikmati hidangan ala kadarnya, Keynaya menanyakan keberadaan sahabat karibnya, “mana Nayranya tante?? Kok tidak kelihatan ada di rumah?”
“Nayranya…Nayra..Nayra” dengan terbata-bata ibu Rita menjawab.
“Nayra kenapa tante, kemana?? Nayra tidak apa-apa kan?” bertubi-tubi Keynaya bertanya.
Ibu Rita tak kuasa menjawab, beliau meninggalkan tamunya di ruang tamu dan berlari naik ke kamar Nayra, mengambil sepucuk surat yang dititipkan Nayra untuk Keynaya. Ibu Rita kembali ke ruang tamu dengan sepucuk surat di tangan, “ini dari Nayra untuk kamu” ujarnya berlinang air mata kepada Keynaya.
Dengan tangan gemetar Keynaya membuka amplop berwarna pink yang cantik itu, ada pita pink juga di sudut amplonya.
Dear Keynaya
Keynaya sayang, sahabatku yang paling baik, apa kabar hari ini?? Baik-baik sajakah?? Sehat-sehat?? Semoga sehat ya!! Key, saat kau membaca surat dari aku ini, mungkin aku sudah tak ada lagi di dunia ini, tak ada di samping kamu, tak bisa menemani kamu bermain, bercanda dan tertawa, maafkan aku ya Key.


Key sayang, sebenarnya aku ingin sekali cerita ke kamu tentang penyakitku, tapi aku takut membuat kamu kepikiran terus, takut buat kamu gelisah. Sebenarnya aku terkena penyakit leukemia, Key dan umurku tidak akan lama lagi.


Key sayang, meskipun aku telah pergi dari sisi kamu, tapi rasa sayang aku ke kamu tak akan pernah berubah, kamu sahabat terbaik di hidupku, kamu tempatku berkeluh kesah, tempatku menumpahkan suka dan duka. Key, ku tahu saat kau membaca ini, kau sudah bisa melihat indahnya dunia, sengaja ku berikan mataku untuk kamu Key, hanya itu yang bisa aku berikan, jaga mata itu seperti kau menjaga persahabatan kita.


Segitu dulu Key, maafkan aku karena harus pergi meninggalkanmu, terima kasih karena sudah memberikan aku arti selama hidup di dunia. Sampai ketemu suatu saat nanti Key, aku sayang kamu sahabatku.


Kiss and big hug my lovely friend, my best friend in my life….muaaachh
Dariku yang selalu menyayangimu
Nayra Amrita
Air mata mengalir deras di pipi Keynaya, “ini tidak mungkin” katanya lirih. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar tak percaya, sahabatnya sudah kembali ke pangkuan Tuhan, Keynaya menatap selembar foto yang juga ada di dalam amplop surat tadi, foto Nayra tersenyum manis ke arahnya, mata Nayra yang teduh, sekarang ada padanya. Keynaya meminta agar kedua orang tua Nayra mengantarnya ke kuburan.
Lumayan jauh dari rumah Nayra, kaki Keynaya lemah, tapi dia berusaha mengikuti langkah kaki orang tuanya dan orang tua Nayra ke sebuah makan yang begitu tertata rapi, taburan bunga masih segar, tanah pekuburannya juga masih basah.
Sebuah Nisan yang begitu cantik dihadapan Keynaya, membuatnya semakin terluka, jelas tersurat di batu nisan berwarna putih itu nama sahabat karibnya
“Nayra Amrita Artawan”
Lahir 8 Januari 1994
Wafat 14 April 2011
Berjongkok Keynaya membelai nisan itu, gerimis turun membasahi nisan, semakin lama semakin deras, sederas airmata yang jatuh di pipi Keynaya, “kenapa secepat ini kau tinggalkan aku, Nay?? Tega kamu?? Meninggalkan aku seorang diri disini.” Nayra, terima kasih sayang, kau telah memberikan aku sepasang mata untuk melihat dunia ini, terima kasih karena telah mengajariku tentang ketulusan sebuah persahabatan, terima kasih atas senyum termanis yang pernah kau hadirkan di hidupku” ucap Keynaya sambil terisak lirih di atas nisan.
Tangan lembut ibu Rasti terulur ke arah putrinya, “Bangun Key, sudah, ikhlaskan saja Nayra, dia sudah tenang di sana, dia sudah berada di pangkuan Tuhan, yang harus kamu tahu, Nayra tak pernah ingin kamu cengeng, kamu harus tetap semangat menjalani hidup kamu,” bimbing ibu Rasti. “iya ma, terima kasih, aku hanya sedih saja, tapi aku janji tidak akan cengeng lagi setelah hari ini”, kata keynaya.
  • Selasa, Juni 21, 2011
  • Administrator
http://www.lintasberita.com/mediabig/2081d67417525abe067f65917c9a121b.jpgSewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.

Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu engkau melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya.

Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu.

Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulan untuknya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

"Ya Allah ampunilah aku dan kedua Orangtuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana meeka menyayangi aku sewaktu aku masih anak anak"

BTemplates.com

Categories

Kamera CCTV Palembang

Popular Posts

Blog Archive