Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
  • Minggu, September 18, 2011
  • Administrator


Beragam cara di lakukan orang dalam meminta hujan kepada sang maha kuasa saat musim kemarau. Di Gresik Jawa Timur, warga setempat meminta hujan dengan menggelar sedekah bumi sambil berdoa keliling kampung. Uniknya, doa di gelar dengan berbagai cara termasuk membakar dupa ala dukun (18/09/2011.)

Suasana kemeriahan tampak sejak memasuki Desa Sumari Kecamatan Duduksampeyan. Warga berduyun-duyun berkumpul di waduk desa setempat yang telah mengering, untuk menyaksikan ritual meminta hujan yang di kemas dalam bentuk sedekah bumi.

Kemeriahan tradisi tahunan yang di selenggarakan setiap musim kemarau ini, terpelihara dengan rapi. Bahkan, sejumlah peserta membawa berbagai alat pertanian seperti traktor, cangkul termasuk hasil-hasil pertanian, sebagai simbol harapan warga untuk bisa hidup makmur.

Sejumlah tokoh adat setempat, berdoa dengan caranya masing-masing. Sebagian dengan menggunakan cara islam, yakni berdoa kepada sang maha kuasa, melalui zikir. Sementara sebagaian lainnya dengan cara membakar dupa yang di campur gula dan garam. “Sudah menjadi tradisi kami seperti ini, sehingga hujan pun biasanya segera tiba”, kata Bapak Handoko, tokoh masyarakat setempat.

Menurut warga, dupa adalah simbol yang menandai semangat dari kesucian dan persembahan diri. Gula, simbol semangat bekerja untuk mendapatkan rejeki dan garam adalah symbol harapan dan kesempurnaan cinta. Sehingga, ritual ini di percaya warga bisa segera mendatangkan hujan.

Selanjutnya, warga meng-arak hasil bumi dan aneka makanan, keliling perkampungan sambil tak henti-hentinya berdoa, guna mengajak warga setempat untuk ikut berdoa meminta hujan segera diturunkan.

Sejak kemarau melanda, satu-satunya waduk yang menjadi tumpuan irigasi pertanian, mengering. Akibatnya, ratusan hektar lahan pertanian terlantar. Warga pun berharap hujan segera tiba, agar roda perekonomian kembali berputar. “Ada sekitar 500 hektar lahan pertanian terlantar di desa kami akibat kemarau”, ujar Misbahul Munir.

Arak-arakan kemudian berakhir di balai desa setempat untuk selanjutnya, sebagian makanan dan buah-buahan di nikmati bersama.
  • Jumat, Februari 25, 2011
  • Administrator


Masyarakat suku Sasak, di Pulau Lombok, memiliki tradisi tahunan yang unik, yakni menangkap cacing laut yang dikenal dengan sebutan Bau Nyale. Tradisi tersebut menjadi istimewa dan sakral, lantaran cacing nyale yang ditangkap dipercaya sebagai jelmaan seorang putri bernama Putri Mandalika.

Untuk itu, disuguhkan pula pagelaran drama Putri Mandalika. Konon, karena kecantikannya yang tersohor, sang putri di lamar oleh sejumlah pangeran. Dalam dilema memilih salah seorang pangeran serta ancaman peperangan dari pangeran yang ditolak, sang putri akhirnya memilih menceburkan diri ke laut dan menjelma menjadi cacing laut yang dikenal dengan Nyale.

Setelah pembacaan do’a dari seorang tokoh masyarakat, tanpa dikomando ribuan warga kemudian bergerak bersama-sama turun ke laut, untuk mencari nyale. Berbagai alat tangkap digunakan untuk menangkap nyale, mulai dari jaring hingga menggunakan tangan kosong.

Di samping itu, terdapat beberapa ritual yang dilakukan biasanya adalah potong ayam dan membuat ketupat. Ini disebabkan karena ritual ini erat kaitannya dengan kegiatan Pasola, yakni untuk melihat baik dan buruknya nasib seseorang.

Tradisi tahunan tersebut di gelar setiap tangal 20 bulan 10 dalam Penaggalan Suku Sasak, yang biasanya jatuh pada salah satu hari di bulan Februari dan Maret tahun Masehi, sebuah tanggal yang dijanjikan sang Putri Mandalika untuk menemui rakyatnya.

Ketika langit mulai terang, nyale pun menghilang, dan warga kembali pulang, dengan hasil tangkapan mereka. Begitulah, sebuah tradisi tahunan telah dijalankan dan ribuan warga pun akan kembali berkumpul, ketika nyale jelmaan sang Putri Mandalika muncul kembali tahun depan.

Upacara Bau Nyale ini telah menjadi salah satu daya tarik yang banyak ditunggu-tunggu oleh para wisatawan mancanegara. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Tengah menjadikan upacara Bau Nyale ini sebagai aset budaya yang penyelenggaraannya telah menjadi koor event kegiatan budaya nasional.


Hari Rabo Wekasan atau hari Rabu terakhir bulan shafar dalam kalender Jawa, di yakini sebagai hari berkah dalam membebaskan diri dari berbagai musibah. Di beberapa wilayah di Indonesia, masyarakat selalu merayakan hari Rabo Wekasan dengan berbagai acara, seperti pesta tumpengan, mandi bersama di sungai, pesta tumpeng dan lain sebagainya.

Rabo Wekasan atau Rabo Bontong adalah hari Rabu terakhir pada bulan sapar tahun Jawa atau Shafar dalam tahun Hijriyah. Masyarakat Jawa meyakini, bulan Sapar adalah bulan malapetaka yang terdapat berbagai macam musibah. Sehingga, pada hari Rabu terakhir bulan Sapar, diadakan sejumlah ritual guna memohon bebas dari musibah.

Masyarakat di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat misalnya, memiliki tradisi mandi bersama di sungai. Tradisi peninggalan Islam yang dikenal dengan mandi Shafar atau rebo bontong itu, sudah berlangsung sejak abad ke lima belas dan masih dijalankan hingga saat ini.

Masyarakat dari berbagai usia, mulai dari kanak-kanak hingga dewasa, tumpah ruah di sepanjang sungai Rungkang Jangkuk, Kecamatan Saying-Sayang, kota Mataram. Lokasi ini adalah salah satu tempat dilaksanakannya tradisi Rabo Bontong atau tradisi mandi safar.

Tradisi ini konon di maskudkan untuk membersihkan diri, agar ummat islam bersih lahir bathin dalam memasuki bulan maulid.

Selain di kota Mataram tradisi Rebo Bontong atau mandi Safar ini juga dilaksanakan di beberapa wilayah dipulau Lombok seperti di Lombok timur, Lombok barat dan Lombok utara.

Sementara itu, masyarakat Desa Suci Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur, memperingati Rabo Wekasan dengan menggelar ritual dan mandi air sendang, istighosah dan pesta tumpengan.

Untuk pesta tumpengan misalnya, kaum ibu sejak pagi telah sibuk membuat nasi tumpeng. Nasi tumpeng ini, kemudian di hias dengan aneka ragam lauk pauk sehingga tampak asri dan mengundang selera. Nasi tumpeng ini, nantinya akan di gunakan sebagai salah satu hidangan utama dalam acara istighasah desa.

Tumpeng-tumpeng ini, selanjutnya di arak menuju Sendang Sono, sebuah sumber mata air yang di yakini warga setempat sebagai tempat berwudu’ Sunan Giri.

Menurut tokoh masyarakat setempat, tradisi Rabo Wekasan, merupakan perintah Sunan Giri untuk berdoa dan bersyukur kepada sang pencipta agar selalu bebas dari musibah.


Enam hari pasca lebaran Idul Fitri, warga Desa Olehsari, Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, menggelar acara ritual unik yaitu Seblang. Acara ritual sarat dengan nuansa mistis tersebut merupakan perlambang ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberikan rejeki dan keselamatan bagi warga desa. Pegelaran yang digelar selama tujuh hari di bulan syawal ini, dimulai tiap tengah hari dan berakhir saat menjelang Maghrib.

Upacara adat Seblang, diawali dengan ider bumi. Yakni penari Seblang, pawang Seblang dan warga yang memiliki pertalian keturunan dengan penari Seblang, berkeliling di sekitar desa, untuk mengusir roh jahat dari desanya. Sebelumnya, prosesi ini diawali dengan doa dan mantra yang dibacakan oleh pawang Seblang dengan membakar kemenyan untuk mendatangkan roh Seblang.

Tidak sembarang orang bisa menjadi seorang penari Seblang. Penari Seblang hanya bisa dipilih dari keturunan Seblang dan mempunyai pertalian darah dengan leluhur Seblang pertama kali, yaitu Mbah Tiyon. Selain itu, penari Seblang juga harus seorang gadis yang masih perawan.

Sesampainya di lokasi ritual, prosesi Seblang pun dimulai. Pawang Seblang membacakan berbagai mantra mantra untuk mendatangkan roh Seblang, di atas topi Seblang, yaitu sebuah topi yang telah di ukir dedaunan.

Sesaat setelah mantra selesai dan topi Seblang di kenakan ke penari. Dalam sekejab, gadis yang masih berusia 14 tahun langsung tidak sadarkan diri dan langsung menari mengikuti alunan musik yang di mainkan oleh para warga dengan mata tertutup bersama penari laki laki sambil berkeliling di lokasi ritual.

Ritual yang selalu diselenggarakan setiap tahun oleh warga desa Olehsari ini, menyedot ribuan warga untuk menyaksikan. Bahkan momen tahunan tersebut juga menyedot wisata asing. Tidak sedikit warga berdesak desakan untuk mendekat untuk dapat melihat sang penari Seblang menari.

Setelah penari Seblang melakukan tariannya mengelilingi tempat ritual, tarian selanjutnya dilanjutkan dengan menari di atas meja sambil menggenggam selendang yang akan dilempar ke penonton. Bagi penonton yang terkena lemparan selendang wajib naik di atas meja, menari bersama penari Seblang.

Puncak ritual Seblang sendiri di akhiri dengan dibagikan kembang dermo atau bunga sesaji. Kembang dermo ini selalu saja menjadi rebutan para penonton, karena diyakini, kembang ini bisa bermanfaat untuk menyembuhkan dari berbagai penyakit, untuk keselamatan dan mempermudah mendapatkan jodoh, yaitu dengan cara menaruh di bantal tempat tidurnya. Namun untuk mendapatkan kembang dermo ini, para penonton diwajibkan memberi uang tebusan yang besarnya sebesar Seribu Rupiah.

Seblang yang dalam bahasa Oseng berarti tarian. Ritual Seblang merupakan ritual tahunan yang hanya boleh digelar dibulan syawal. Masyarakat desa meyakini, akan mendapatkan mara bahaya ke seluruh warga desa jika ritual ini tidak di laksanakan.(86)
  • Kamis, Mei 27, 2010
  • Administrator


Dua hari menjelang perayaan Waisak, ratusan Biksu dari berbagai sangga seperti mahayana,teravadha, serta trantayan, melakukan ritual pindapata atau mengumpulkan berkah yang diberikan oleh umat Budha, di jalan utama kota Magelang, Jawa Tengah (26/05/2010.). Dalam ritual ini umat Budha memberikan sedekah berupa uang, bahan makanan dan lain-lain kepada Biksu, yang sejak pagi hari telah berkeliling kota.

Dengan sikap anjali atau sikap tangan menyembah, puluhan umat Budha yang berada di sepanjang Jalan Pemuda atau biasa disebut kawasan pecinan, kota Magelang, sudah bersiap menunggu para Biksu yang akan melakukan ritual pindapata dengan cara berjalan kaki . Ritual pindapata adalah mengumpulkan uang atupun bahan makanan dari yang dipersembahkan umat Budha kepada Biksu.

Menurut Biksuni Wiryaguna Ketua Majelis Maju Bumi Walubi, ritual ini merupakan bentuk ajaran sang Budha. Selain itu barang siapa yang memberikan sedekah kepada para Biksu, maka sang pemberi sedekah akan diberikan kemakmuran dan kecukupan dalam hidupnya. “Ajaran ini sangat bermanfaat bagi kita, sebagai bentuk pengajaran solidaritas dan akan mendatangkan rejeki”, Ujar Biksuni Wiryaguna.

Umat Budha kota Magelang mengaku senang dan percaya jika memberikan sedekah kepada para Biksu maka rejeki yang didapat akan lebih berlimpah.

Sebelum melakukan ritual pindapata, ratusan Biksu dari berbagai sangha ini melakukan pemanjatan doa serta sembayangan di Vihara Liong Hok Bio, Kota Magelang. Selanjutnya mereka langsung melakukan ritual pindapata.

Sementara itu perayaan Waisak 2554 be, 2010 Masehi akan jatuh pada tanggal 28 Mei, yang rencanaya akan dipusatkan di komplek Candi Borobudur.
  • Sabtu, Mei 22, 2010
  • Administrator

Beragam tradisi unik dimiliki masyarakat pulau Bali. Di Desa Bongan Gede, Tabanan misalnya terdapat tradisi Mesuryak. Tradisi ini dilaksanakan sebagai penutup rangkaian hari Raya Galungan dan Kuningan.

Masyarakat Hindu Bali melaksanakan tradisi ini secara turun temurun. Menurut mereka, Mesuryak merupakan ujud rasa kegembiraan masyarakat setelah dilaksanakan hari raya.

Warga percaya selama hari raya para leluhur mereka pulang ke rumah masing-masing selama 10 hari sejak hari raya galungan. Untuk itu, Mesuryak merupakan bagian dari ritual melepas leluhur agar mereka kembali ke tempatnya dengan bahagia, yakni swarga loka.

Sebelum Mesuryak ini digelar, warga biasanya mengawalinya dengan menghaturkan sesajen di merajan masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan di pura dalem setempat.

Dalam pelaksanaan ritual, warga menghamburkan uang kertas atau logam ke angkasa sementara warga lainnya berebutan mengabil uang tersebut.

Uang tersebut menurut warga sebagai bekal para leluhur dalam perjalanan mereka ke nirwana.

Warga terlihat larut dalam kegembiraan. Tidak hanya orang dewasa, tapi wanita maupun anak-anak ikut rebutan uang.

Jumlah uang yang di sebar tergantung kemampuan ekonomi masing–masing warga tanpa ikatan dan dilakukan dengan ikhlas.

  • Jumat, April 30, 2010
  • Administrator


Ritual tanam kepala kerbau adalah bagian dari upacara cembengan yaitu upacara awal musim giling tebu. Sesajen berupa tujuh kepala kerbau tertsebut, hanya ditemukan di pabrik gula Tasikmadu Desa Suruh Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar Jawa Tengah yang bertujuan meminta kelancaran proses penggilingan tebu (29/04/2010.)

Ritual dimulai dengan arak-arakan sesajen dari balai Desa Suruh dengan berjalan kaki menuju Pabrik Gula Tasik Madu, yang berjarak sekitar dua kilometer. Arak-arakan sesajen berisi bermacam hasil bumi, bubur dan makanan tradisional lainya. Ikut diarak pula, gagar mayang dari dua batang pohon tebu, kembang telon serta tujuh kepala kerbau yang merupakan simbol kekuatan dalam menolak bala.

Sesajen di arak menggunakan jolen atau joli yang dibuat dari bambu kertas hias yang diusung warga secara bergantian. Warga percaya sesaji ini akan membawa berkah, terutama bagi para pekerja pabrik yang akan melakukan proses produksi gula pasir.

Sebelum masuk ke lokasi penggilingan, terlebih dahulu tokoh adat setempat memasang sesajen di depan monumen lokomotif yang berada di pintu pabrik. Hal ini dilakukan agar kekuatan jahat, yang berada di sekitar pabrik tidak masuk dan mengganggu proses ritual.

Tumbal jenis ini biasanya untuk gangguan kelas berat. Kegunaannya bukan untuk meredamdan menetralisir makhluk-makhluk yang sifatnya kotor. Kotor dimasukkan ke dalam kotoran, maka lenyap kotorannya karena menyatu. Asalnya dari kotoran kembali ke kotoran.

Setelah itu, sesaji termasuk kepala kerbau dibawa masuk ke dalam pabrik untuk selanjutnya didoakan. Sesajen kemudian diletakkan di sejumlah tempat di dalam pabrik, terutama di depan deretan mesin giling.

Menurut kepala tanaman pabrik Gula Tasikmadu, Sri Harjanto, ritual bertujuan memohon keselamatan kepada Tuhan dalam proses penggilingan tebu, untuk selanjutnya diproses menjadi gula pasir. Sementara kepala kerbau sendiri, adalah simbol dari etos dan semangat dalam bekerja. “Semua simbol memiliki arti tersendiri”, Sri Harjanto.

Ritual berlanjut hingga Jumat pagi (30/04/2010,) dengan upacara temu manten tebu pria dan perempuan yang dimeriahkan layaknya resepsi pernikahan. Upacara ijab dinyatakan setelah pasangan tebu temanten, dimasukkan bersama-sama dengan tebu penggiring di stasiun gilingan.
Syukuran atau selamatan ini dilakukan layaknya syukuran yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya, yaitu menggunakan nasi tumpeng dan perlengkapan lainnya. Syukuran ini bertujuan agar prosesi kirab tebu manten ini berjalan dengan lancar mulai dari awal tebang, angkut, penggilingan sampai dengan akhir penggilingan nanti.
Ritual ini merupakan tradisi yang sudah berumur sekitar 150 tahun dan merupakan peninggalan Mangkunagoro keempat, penguasa Pura Mangkunegaran Surakarta yang mendirikan pabrik gula ini pada tahun 1871.

Melihat sejarahnya, ritual kepala kerbau ini sangat penting, terutama bagi para pekerja pabrik gula. Selain itu ada nilai-nilai budaya Jawa yang diperlihatkan dalam ritual ini.

  • Rabu, Maret 17, 2010
  • Administrator


Balai Banjar Kasa kelurahan Sesetan, Denpasar Bali mendadak ramai oleh muda-mudi guna bersiap menggelar tradisi Omed Omedan atau ciuman massal (17/03/2010.) Tradisi ini selalu digelar tiap tahun, sehari setelah perayaan nyepi bagi umat hindu Bali. Tujuannya, untuk merayakan kegembiraan setelah sehari penuh melakukan catur brata penyepian, atau empat larangan selama nyepi yakni tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian dan tidak bersenang senang.

Dalam bahasa Bali, Omed–Omedan berarti saling tarik menarik. Dalam tradisi yang sudah dilakukan turun temurun ini, para peserta di bagi dalam dua kelompok, pria dan wanita. Masing–masing kelompok akan menentukan salah satu anggotanya untuk berciuman di tengah arena. Ciuman berakhir setelah petugas menyiramkan air.

Tradisi yang dilakukan pada hari ngembak geni ini merupakan wujud kebahagiaan untuk mempererat kebersamaan antara warga, usai melaksanakan nyepi.

Bagi peserta, tidak ada rasa risih sama sekali meski harus berciuman masal di muka umum. Apa yang mereka lakukan hanya semata–mata sebagai ungkapan kebahagiaan dan kebersamaan.

Menurut kelian adat Banjar Kaja Sesetan, Anak Agung Mayun, tradisi Omed Omedan sempat ditiadakan pada tahun 80-an. Tetapi kala itu, ada kejadian unik melanda desa Sesetan yakni sejumlah warganya sakit dan dilihatnya ada babi bertarung dari siang hingga sore hari. Sejak itulah, mereka tak berani lagi meniadakan acara Omed Omedan.

Sebagai sebuah tradisi, mereka menolak Omed Omedan disebut berbau porno, meski digelar di depan umum. Para peserta ini pun mengaku senang bisa berpartisipasi, meski sempat grogi.

Selain disaksikan walikota Denpasar, Omed-Omedan juga disaksikan ribuan wisatawan domestik dan asing.

  • Sabtu, Februari 27, 2010
  • Administrator


Tradisi Baayun yang biasa di gelar pada bulan Maulid atau bulan Rabiul Awal (27/02/2010,) merupakan tradisi turun temurun masyarakat pemeluk agama Islam di Kalimantan Selatan. Tradisi berisi pembacaan doa shalawat sambil mengayun anak dalam ayunan ini sudah berlangsung ratusan tahun lamanya dan terkait dengan kepercayaan masyarakat adat Dayak pegunungan Meratus.

Biasanya, tradisi Ba’ayun digelar di areal makam Pangeran Suriansyah, Kuin Utara Kota Banjarmasin, raja Banjar penyebar agama islam di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Tradisi tahunan dengan mengayunkan anak pada bulan Maulud ini bertujuan agar sang anak jika sudah besar nanti menjadi orang yang sehat berbakti kepada orang tua, serta dapat mengikuti ketauladanan Nabi Muhammad SAW.

Yang menarik, sambil mengayun ayunan sang buah hati, si ibu berdendang dengan bershalawat nabi. Seakan mengerti sedang didendangkan, anak-anak tak satupun dari balita yang merengek apalagi menangis. bahkan sebagian besar bisa tertidur pulas.

Ayunan yang digunakan dalam Ba’ayun tergolong unik, yakni menggunakan kain yang dihiasi janur pohon nipah, janur pohon kelapa serta janur pohon enau. janur dibentuk mirip tangga puteri, tangga pangeran, payung singgasana, patah kangkung, kambang sarai, gelang-gelang serta hal-hal lain yang berkenaan dengan aksesoris kerajaan. jika proses Ba’ayun Maulud selesai, ayunan yang juga dihiasi aneka buah seperti pisang, kue cincin dan uang pecahan, bisa mereka bawa pulang.

Pada kegiatan Baayun tahun ini, sedikitnya di ikuti 120 Balita mulai usia dua bulan hingga belasan tahun. Mereka datang dari berbagai pelosok kota Banjarmasin, bahkan sebagian diantaranya dari luar kota.

Tak hanya para balita yang ikut dalam Ba’ayun Maulud ini, sejumlah ibu-ibu lanjut usia juga tidak sungkan diayun menggunakan kain kuning, kain kramat suku Banjar.

Selain itu, mereka yang ikut dalam tradisi Ba’ayun Maulud ini biasanya kaum ibu yang sudah lama menikah namun belum juga dikaruniai keturunan. dengan Ba’ayun Maulud mereka berherap bisa mendapatkan keturunan yang soleh dan solehah.

Tradisi Baayun maulid saat ini menjadi salah satu daya tarik wisata baik bagi masyarakat Kalimantan Selatan maupun masyarakat luar kota. (86)

  • Selasa, Februari 09, 2010
  • Administrator


Suasana berbeda nampak di Klenteng Hok An Kiong Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Menjelang datangnya perayaan Imlek ke 2561, puluhan warga Tionghoa tampak sibuk membersihkan Altar dan memandikan patung Dewa Dewi di pelataran Klenteng (09/02/2010.)

Tradisi bersih bersih altar dan memandikan para dewa ini memang rutin dilakukan menjelang peringatan tahun baru Imlek atau dikenal dengan tradisi Cing Dhun. Tradisi ini diyakini oleh para peserta akan memberikan berkah tersendiri bagi para pelakunya .

Menurut pengurus Klenteng, tradisi ritual ini dilakukan bertepatan dengan hitungan Shang An di mana para dewa naik menuju ke khayangan. “Tradisi bersih-bersih ini waktunya bertepatan dengan naiknya para Dewa agar kita mendapat berkah”. Ujar Budi Rahardja, Ketua Klenteng.

Air yang di gunakan dalam tradisi bersih-bersih ini di campur dengan bunga agar mengeluarkan aroma harum.

Tujuan tradisi ini adalah untuk memberisihkan diri supaya bila Imleks tiba semuanya bersih, hingga menciptakan suasana nyaman dalam beribadah. Salah satu syarat utama dalam melakukan tradisi ini adalah tidak boleh makan ikan selama 3 hari.

Dalam melakukan tradisi Cing Dhun, tidak hanya membersihkan altar dan memandikan para dewa saja, namun hampir semua sarana peribadatan, haruslah dibersihkan mulai dari Yolo atau tempat abu sampai cucing atau gelas tak boleh ketinggalan juga ikut di bersihkan.

  • Minggu, Februari 07, 2010
  • Administrator


Jelang perayaan tahu baru China, di Solo, Jawa Tengah
selalu meriah dengan tradisi Grebeg Sudiro, yaitu tradisi perayaan tujuh hari menjelang Imlek. Tradisi yang sudah ratusan tahun dirayakan warga keturunan Tionghoa di Solo itu merupakan ritual memohon keselamatan dan kebahagian.

Sebelum dimulai, ribuan warga sudah memadati ruas Jalan Urip Sumoharjo, persisnya di depan pasar Gedhe Solo. Mereka datang disamping menonton berbagai atraksi, juga berharap dapat kue ranjang dan bakpau yang akan dibagi bagikan panitia kepada masyarakat.

Dalam perayaan kali ini, sedikitnya 1500 peserta dilibatkan untuk berbagai atraksi seperti Barongsai, Liong, Reog dan atraksi lainnya.

Kirab dimulai dengan melepas rombongan pengibar bendera yang disusul gunungan kue ranjang dan roti bakpo. Kemudian rombongan lion dan barongsai. Tak ketinggalan seni budaya Reog dan tari tarian lereng Gunung Merbabu seperti Tari Kubro, maupun Tari Topeng Ireng.

Sebelum, Grebek Sudiro hanyalah perayaan internal di lingkungan kampung Sudiroprajan, kecamatan Jebres saja. Setelah perayaan Imlek di tetapkan sebagai hari libur nasional oleh mendiang Presiden Abdurrahman Wahid, tradisi ini berkembnag hingga menjadi ikon kota Solo.

Pada puncak perayaan tahun baru Imlek, akan digelar kirab gunungan hasil bumi serta parade lampion keliling kampung yang diakhiri penyalaan lampion Mbah Teko yang menjadi simbol rakyat Solo.

  • Kamis, Januari 28, 2010
  • Administrator


Para petani di Demak Jawa Tengah mempunyai cara unik sebelum memanen padi. Mereka menggelar tradisi yang disebut Wiwit Manten, sebagai pertanda dimulainya panen raya padi.

Para petani di Desa Karangmlati Kecamatan Demak Kota, menggelar ritual Wiwit Manten untuk menyambut panen raya padi (28/01/2010.) Tradisi Wiwit Manten sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun lalu, namun sempat terhenti akibat kurang di lestarikan warga.

Wiwit Manten sendiri berasal dari kata wiwit dan manten yang dalam bahasa Indonesia berarti memulai dan pengantin.

Ritual dimulai dengan menyiapkan berbagai sesaji, berupa makanan tradisional ke areal persawahan. Dipimpin oleh seorang tokoh adat setempat, para petani kemudian berdoa dengan khusuk.

Dalam tradisi ini, tanaman padi yang sudah layak dipanen kemudian dipotong dan diikat bersama bunga. Padi inilah yang dinamakan sebagai manten atau pengantin, untuk selanjutnya disimpan dalam lumbung, sebagai bahan makanan, dan sebagian lainnya sebagai benih pada musim tanam berikutnya.

Tradisi Wiwit Manten selain untuk melestarikan budaya Jawa, juga merupakan wujud ungkapkan syukur kepada sang pencipta, yang telah memberikan hasil tanam yang melimpah. “Tradisi ini adalah ungkapan rasa syukur warga”. Ujar Agus Kartono, Kades Karangmlati

Selain memotong padi dalam ritual Wiwit Manten, para petani juga mencuci alat-alat pertanian.

Setelah ritual wiwitan selesai, aneka makanan yang terdiri dari berbagi makanan tradisional kemudian dibagikan kepada warga yang datang untuk dimakan secara bersama-sama. (86)

  • Minggu, September 27, 2009
  • Administrator


(Lamongan-86) Hari Raya Ketupat, ratusan warga di pesisir pantai utara Lamongan Jawa Timur (27/09/2009,) merayakannya dengan menggelar napak tilas pesta makan ketupat oleh Sunan Drajat saat menyambut tamu. Agar suasana semakin meriah, warga mengenakan pakaian adat Jawa tradisional.

Arak-arakan tersebut di ikuti ratusan warga yang ada di sekitar kawasan Wisata Tanjung Kodok kecamatan Paciran, Lamongan, yang terdiri dari ibu dan bapak-bapak. Dengan menggunakan pakaian adat, warga kemudian berjalan sambil membawa ketupat menuju kawasan wisata tanjung kodok, tempat Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur menyambut tamu dari janda Mantingan, asal Rembang Jawa Tengah yang akan menyumbang kayu untuk pembangunan mushalla milik Sunan Sendang Duwur.

Arak-arakan juga di lengkapi dengan iringan musik jedor dan rebana yang di mainkan oleh kaum lelaki sambil melantunkan Shalawat Nabi.

Saat arak-arakan tiba tajung kodok, secara bersamaan, rombongan dari rembang juga tiba dengan mengendarai perahu, sambil membawa 99 kayu untuk di sumbangkan ke pembangunan mushalla Sunan Sendang Duwur.

Selanjutnya Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur menyambut tamunya dengan hidangan ketupat dan lepet. 2 jenis makanan yang di lilit daun kelapa ini melambangkan larangan terhadap sejumlah perbuatan dosa yang di larang agama, serta anjuran mempererat persaudaraan antar umat Islam. “Semua yang di tampilkan dalam napak tilas ini adalah simbol penyebaran agama Islam”. Ujar Aris Wibawa, Direktur Utama Wisata Bahari Lamongan.

Menurut warga, tradisi arak-arakan ketupat ini, sudah berlangsung ratusan tahun, sejak masuknya islam ke wilayah Lamongan sekitar abad ke 15 yang di bawa Sunan Drajat.

Warga setempat, meng-istilahkan lebaran ketupat ini dengan kupatan, yang berarti mengaku lepat, atau mengakui kesalahan. Di harapkan, dengan tradisi ini, warga bisa menghayati makna kebersamaan yang tercermin dalam kekompakan selama meng-arak ketupat.

Bagi masyarakat muslim di Lamongan, tradisi hari raya ketupat, dilaksanakan setelah melaksanakan puasa sunnah 6 hari lamanya pasca Idul Fitri. Meski hanya merupakan tradisi lokal, namun, warga mengikuti prosesi arak-arakan ini dengan penuh khidmat. (86)

  • Jumat, September 18, 2009
  • Administrator


(Gresik-86) Di kabupaten Gresik Jawa Timur, tradisi pasar bandeng menyambut hari raya Idul Fitri, kembali di gelar dengan suasana meriah. Seperti biasa, sejumlah ikan bandeng berukuran besar, mewarnai pesta rakyat yang berlangsung sejak masa kolonial Belanda tersebut.

Bagi masyarakat Gresik, perayaan Idul Fitri, terasa belum lengkap tanpa didahului kegiatan tradisi pasar banding atau bandengan dalam istilah masyarakat setempat. Kegiatan yang dilakukan setiap tahun ini diadakan 2 hari menjelang hari raya idul firti dengan di ikuti bandeng-bandeng berukuran besar.

Tidak ada yang tahu pasti, kapan pertama kali pasar bandeng mulai di gelar. akan tetapi, tradisi pasar bandeng bermula dari kebiasaan masyarakat Gresik yang menganggap bahwa bandeng juga melambangkan prestise seseorang di dalam masyarakat. Dengan demikian, banyak masyarakat Gresik memakan bandeng, terutama menjelang hari raya. makin besar bandengnya, semakin tinggi pula prestisenya dalam pandangan masyarakat setempat.

“Untuk masyarakat Gresik, kalo tidak makan ikan banding saat Idul Fitri, terasa tidak afdhol”. Ujar Rosidi, warga Gresik yang membeli 2 ekor banding seberat 6 Kilo Gram.

Dalam perkembangannya, pasar bandeng sendiri kemudian menjadi sebuah tradisi, dan pesta rakyat, yang tidak hanya dikunjungi oleh warga Gresik, tetapi juga oleh masyarakat luar Gresik, seperti Surabaya, Sidoarjo, Tuban dan Lamongan.

Pesta bandeng kali ini di adakan di jalan raya Gubernur Suryo, depan pasar tradisional Gresik, dengan di ikuti lebih dari 175 pedagang ikan bandeng dari dalam dan luar kota Gresik.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun perayaan pasar bandengan juga diramaikan oleh ikan bandeng yang beratnya di atas lima kilogram. Harga perkilonya pun bervariasi antara 50 ribu hingga 200 ribu rupiah, tergantung kualitas ikan bandeng.

Adnan, salah seorang pedagang asal Desa Mangarai Kecamatan Bungah mengaku telah berpartisipasi dalam kegiatan pasar banding sejak tahun 1987. Saat ini, Adnan membawa 1,3 ton ikan bandeng. “Saya ikut pasar bandeng sejak masih bujangan sampai saat ini”. Ujarnya.

Aktivitas lain yang menarik dari pasar bandeng ini adalah aktivitas tawar-menawar harga antara para pedagang dengan pembeli yang cukup alot. Bahkan, tawar-menawar seperti ini, masih terlihat hingga menjelang datangnya waktu imsak. Di samping itu, fluktuasi harga ikan bandeng, selalu berubah dari waktu ke waktu tergantung musim dan kualitas ikannya.

Menariknya, pasar bandeng ini juga di ramaikan dengan lelang bandeng terbuka yang di dikuti oleh tokoh masyarakat setempat.

Bagi masyarakat Gresik, pesta bandengan ini merupakan rangkaian dari pesta kemenangan melawan hawa nafsu setelah sebulan lamanya berpuasa.



(Gresik-86) Setiap menjelang malam tanggal 23 Ramadhan, masyarakat desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik Jawa Timur, merayakan tradisi berbuka puasa dengan masakan kolak ayam. Tradisi yang sudah berusia lebih dari 500 tahun tersebut sangat menarik, justru karena lamanya tradisi ini berlangsung.

Kesibukan kaum lelaki warga desa Gumeno terlihat sejak pagi hari (12/09/2009) di halaman Masjid Jamik desa setempat. Mereka sedang menyiapkan racikan bumbu kolak ayam yang akan menjadi menu takjil berbuka puasa. Sebagaimana kolak pada umumnya, kolak ayam warisan Sunan Dalem, putra Sunan Giri tersebut, tetap didominasi rasa manis. Hanya saja, tidak ada Pisang, Ubi atau Singkong sebagaimana kolak pada umumnya. Justeru yang menjadi ganti adalah daging ayam yang diiris kecil-kecil.

untuk bumbunya terdiri dari santan Kelapa, Daun Bawang dan Gula merah sebagai pemanis. Semua bumbu dimasak menjadi satu selama lebih dari tiga jam, menggunakan bahan bakar kayu. Dalam peraya-an tahun ini, tak kurang dari 9 wajan besar, digunakan untuk memasak racikan khas Gresik ini.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, juru masak kolak ayam, harus kaum lelaki, sesuai petunjuk Sunan Dalem. Juru masak ini, rata-rata telah mewarisi keterampilam memasak kolak ayam secara turun temurun. Meski tanpa di bayar, mereka terlihat senang bisa menyajikan takjil kolak ayam.

Sejarah pertama kolak ayam bermula pada tahun 1541 Masehi ketika Sunan Dalem, pendiri masjid Gumeno, menderita sakit yang tidak diketahui jenis penyakitnya. Tak satu pun obat yang mampu menyembuhkan penyakit sang Sunan. Akhirnya, Sunan Dalem mendapat petunjuk dari allah SWT agar membuat suatu masakan obat, dengan racikan daging ayam jago, bawang daun secukupnya, gula merah atau gula jawa, jinten dan kelapa untuk dibuat kolak. setelah berbuka puasa dengan masakan tersebut, Sunan Dalem sembuh. kejadian tersebut bertepatan dengan tanggal 22 Ramadhan.

Sebagai ungkapan rasa syukur, penduduk desa Gumeno membuat kolak ayam dan menikmatinya bersama-sama di masjid pada setiap malam ke-23 bulan Ramadhan. Peringatan Berbuka puasa dengan takjil kolak ayam kali ini, merupakan yang ke-559 kalinya.

Pada tahun ini peraya-an kolak ayam membutuhkan 115 ekor ayam jantan, 500 Kilo Gram gula merah, 100 kilogram jinten, 600 butir kelapa, 2 kwintal daun bawang, dan 1.250 liter air. Biaya peraya-an ini, menghabiskan dana 15 juta rupiah yang dipungut dari sumbangan masyarakat desa Gumeno.

Masyarakat desa Gumeno sendiri menamai kolak ayam dengan nama, Sanggringan, atau raja yang sembuh dari sakit. Dengan demikian, warga meyakini, kolak ayam bisa mengobati segala macam penyakit. “Keyakinan akan khasiat kolak ayam atau Sanggringan sudah melekat di masyarakat”. Ujar Ilyas, salah seorang tokoh masyarakat.

Setiap tahun, ribuan orang sengaja datang ke tempat ini, hanya ingin mencicipi kolak ayam hasil masakan kaum lelaki desa Gumeno. Mereka berasal dari dalam dan luar gresik seperti Surabaya, Lamongan, Sidoarjo dan Tuban.

Dengan paduan bahan masakan ayam, daun bawang, santan dan gula, rasa kola ayam sangat unik dan variatif dengan dominasi rasa manis bercampur gurih rasa bawang dan ayam. “Rasanya unik mas, bercampur baur karena bahannya yang kompleks, hingga membuat saya berkeringat”. Kata Wahyudi Husein, salah seorang penikmat kolak ayam asal Suarabaya.

Wahyudi menambahkan, Kolak Ayam adalah tradisi bangsa Indonesia yang harus di lestarikan. Meski kita sedang ribut dengan Malaysia karena klaim Malaysia atas sejumlah budaya asli Indonesia, tapi kolak ayam tidak akan bisa di klaim." Hanya masyarakat desa Gumeno yang bisa membuat kolak ayam, masyarakat di luar Gumeno tidak akan bisa, apalagi Malaysia". Tambahnya.

Bagi warga desa Gumeno, tradisi berbuka puasa dengan kolak ayam tak hanya sekedar melestarikan budaya saja, tapi lebih dari itu, adalah membina rasa kebersamaan antar kaum sesame muslimin. (86)





Beragam cara di gunakan orang dalam meminta hujan kepada sang maha kuasa saat memasuki musim kemarau. Di Gresik Jawa Timur (02/08/2009), warga setempat meminta hujan dengan menggelar lomba gulat tradisional yang di kenal dengan nama, Okol. Uniknya, peserta gulat bukan hanya di dominasi kaum lelaki, anak-anak dan ibu-ibu, juga ambil bagian dalam tradisi tahunan tersebut.

Suasana kemeriahan, tampak sejak memasuki perbatasan desa Setro Kecamatan Menganti, Gresik. Bahkan, warga berduyun-duyun di lapangan desa setempat, bukan untuk berunjuk rasa, tapi untuk menyaksikan secara langsung pertandingan Okol, sebuah perhelatan gulat tradisional yang sudah berlangsung secara turun temurun.

Kemeriahan tradisi tahunan yang di selenggarakan setiap memasuki musim kemarau ini, terpelihara dengan rapi dan masih terlihat tradisional. Di antaranya, arena ring yang di gunakan terbuat dari tumpukan jerami yang di tutup karung. meski demikian, suasana kemeriahan, tampak jelas di wajah warga yang sejak pagi menunggu perhelatan tahunan ini.

Guna menghindari efek negatif dari gulat ini, panitia menetapkan sejumlah peraturan. di antaranya, di larang meninju lawan, mengangkat tubuh lawan serta mencederai lawan dengan membelitkan kaki.

Biasanya, sebelum bertanding, para peserta di beri selendang warna merah, sementara lawannya menggunakan warna hitam. perhelatan gulat ini, di pimpin 2 orang wasit yang dalam istilah warga setempat di kenal dengan nama pelandang.

Untuk tampil dalam gulat ini, peserta terlebih dahulu harus mencari lawan seimbang. baik postur tubuh, usia dan tinggi badan. Setelah mendapat pengesahan pelandang, barulah peserta bisa memperlihatkan kebolehannya dalam bertarung di atas tumpukan jerami ini.

Seperti yang di ungkapkam salah saeorang peserta wanita bernama Ayu, teknik bergulat Okol tidaklah mudah. “Awalnya sulit, tapi karena sudah biasa, ikut lomba Okol jadi menyenangkan”. Ujarnya.

Para peserta berasal dari sejumlah daerah di sekitar Gresik. Dalam gulat kali ini, tercatat sedikitnya 30 pasang pegulat, ambil bagian. Uniknya, peserta gulat bukan hanya di dominasi kaum lelaki, anak-anak dan ibu-ibu, juga ambil bagian dalam tradisi tahunan ini.

Menurut salah seorang tokoh masyarakat setempat, tradisi gulat tradisional, telah berlangsung ratusan tahun yang silam. konon, kekeringan panjang perna melanda kawasan desa ini. sehingga, saat turun hujan pertama, warga kemudian meluapkan rasa kegembiaraannya dengan bergulat di atas tumpukan jerami.

“Tradisi ini bermula saat ratusan tahun yang lalu saat warga desa Setro mengalami kemarau panjang. Begitu hujan tiba, warga bersenang-senang dengan bergulat di atas jerami” Kata Bambang Suprayitno, Tokoh Masyarakat setempat.

Tahun 2008 lalu, gulat Okol di tunjuk Dinas Pariwisata setempat, menjadi duta Jawa Timur dalam Pekan Budaya Di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan meraih nominasi terbaik tingkat nasional.

Di Gresik sendiri, pesta sedekah bumi dengan gulat tradisionalnya, ada di desa Setro dan sejumlah desa di sekitarnya. (b86)

BTemplates.com

Categories

Kamera CCTV Palembang

Popular Posts

Blog Archive