Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan


Pencak macan, merupakan salah satu seni warisan leluhur, yang nyaris punah, akibat tergilas roda zaman. Demi menjaga kelestariannya, sejumlah sekolah di Gresik Jawa Timur, mengemasnya menjadi sebuah seni pertunjukkan, agar lebih di kenal masyarakat khususnya generasi muda (25/09/2011.)

Setelah sekian lama terpinggirkan, seni pencak macan, kini mulai dipentaskan dan dimainkan di sejumlah sekolah di gresik, jawa timur. Bahkan, seni warisan leluhur ini, digunakan sebagai seni unggulan, untuk menjamu tamu yang berkunjung ke kota santri, gresik.

SMA Satu Muhammadiyah Gresik misalnya, adalah satu diantara sejumlah sekolah di gresik yang berusaha menjaga kelestarian seni khas warga pesisir utara pulau jawa ini. Bahkan, di sekolah ini, seni pencak macan, menjadi kegiatan ekstakuler, untuk menambah keterampilan seni para siswa.

Agar disukai remaja, siswa-siswi di sekolah ini, mengemas seni pencak macan, menjadi seni pertunjukkan yang atraktif. Perpaduan antara pencak silat, dengan iringan gamelan jawa, membuat seni tradisi ini, mulai disukai kalangan remaja.

Seni pencak macan, merupakan seni khas warga pesisir utara pulau jawa, dengan segala filosofisnya, yang melambangkan perjalanan manusia dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Seni pencak macan diperankan tiga sosok, dengan tiga karakter yang berbeda, diantaranya macan, melambangkan seorang suami dengan semangat pantang menyerah. Monyet, melambangkan, seorang isteri, dengan cita-cita yang luhur, untuk mewujudkan keluarga yang sakinah. Dan sosok gondoruwo atau hantu, melambangkan antara murka yang akan menggoda perjalanan anak manusia dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.

“Seni pencak macan di ambil dari tradisi asli masyarakat Gresik yang menjunjung tinggi adapt Jawa dan Islam sekaligus”, ujar Mardiluhung, seniman asal kota Gresik.

Konon, pencak macan selalu menjadi bagian dari prosesi pernikahan pasangan mudi-mudi yang naik ke pelaminan. Namun, seiring perkembangan zaman, kesenian ini hampir di lupakan orang.

Pihak sekolah berharap, pemerintah ikut membantu melestarikan seni ini, terutama dengan mengadakan lomba atau festival, agar upaya pelestariannya menjadi lebih bergairah.




Beragam cara dilakukan untuk melestarikan tradisi dan budaya. Menjelang lebaran serta mengisi acara kemerdekaan Pemerintah Daerah menggelar lomba musik patrol. Lomba yang berlangsung di depan Pendopo Lokatantra setempat ini diikuti sebanyak 45 orang. Yang menarik, diantara peserta tersebut Tim Penggerak PKK Kabupaten Lamongan yang notabene adalah ibu-ibu ikut berpartisipasi dan rela untuk begadang, selasa (23/8).



Peserta loba kali ini nampaknya cukup antusias karena selain akan memeperebutkan Piala Bupati Lamongan, juga piala Kapolres dan Dandim 0812. Tercatat ada dua peserta dari luar kota Lamongan. Yakni grup Dot Net Percussion dari Kota Surabaya dan Opo Jare dari Plumpung Kabupaten Tuban.



Seperti disebutkan Plt Sekkab Yuhronur Effendi, peserta akan dinilai berdasar kriteria kekompakan tim. Yakni yang meliputi unsur koreografi, lagu yang dinyanyikan dan daya pikat. Juga akan dinilai aspek akselerasi yang meliputi instrumen patrol dan musik pendukung serta penilaian tata busana.



Lomba Patrol dibuka dengan penampilan di atas panggung oleh tim Budoyo Sejati dari Desa Moronyamplung. Selanjutnya semua peserta berkeliling Kota Lamongan sepanjang dua kilometer dengan kendaraan.



“Ini adalah keberhasilan panitia dalam merangakai acara. Namun saya harapa harus bijak membagi waktu agar jangan sampai menjelang shubuh acara baru selesai, ujar Fadeli saat memebri sambutan. Lomba itu sendiri baru dimulai pada pukul 21.30.



Kedepan, dia berharap event serupa agar terus diselenggarakan karena musik patrol sudah melekat dan menjadi bagian dari ibadah puasa warga setiap Ramadhan. “Bahkan tanpa dikomando, setiap waktu sahur tiba tiap-tiap kelompok musik patrol dari RT dan RW turun ke jalan untuk membangunkan warga dilingkungan masing-masing,” tandasnya. Tampak hadir dalam kesempatan itu jajaran muspida, Kepala SKPD dan Camat.





Komunitas pecinta seni di Gresik Jawa Timur, memiliki cara tersendiri dalam menghayati puasa di bulan suci Ramadhan. Mereka menggelar konser religi bertajuk Tadarus Budaya. Melalui kegiatan tersebut, para seniman berusaha menata segala yang tumbuh di alam, sebagai sumber kehidupan yang mengalir dan menjelma menjadi karya agar manusia tidak mati rasa.



Para seniman gresik yang tergabung dalam Cakrawala Gresik (Cager,) dalam memaknai bulan suci Ramadhan, menggelar Tadarus Budaya, di Aula Kementerian Pendidikan Nasional, Jalan Usman Sadar, Kota Gresik (22/08/2011.)



Dengan memanfaatkan limbah barang-barabf di sekitarnya, kantung plastik bekas, seng bekas, kentongan, dan rebana, mereka mengeksplorasikan kegalauan perasaannya, melalui sebuah musik yang ritmis dan magis, atraksi teater, hingga musikalisasi puisi.



Mereka meng-apresiasi-kan kegaluan hatinya, akan kehidupan anak-anak negeri, di tengah globalisasi teknologi dan informasi yang semakin menjauhkan mereka dari sifat sosial dan saling mengasihi.



Mereka juga prihatin dengan semakin jarang bayi yang disuapi Air Susu Ibu (ASI), karena kedua orang tuanya sibuk bekerja.



Karena itu, melalui Tadarus Budaya, para seniman gresik, menggelorakan kembali olah rasa, yang kian menipis, agar generasi muda tidak terseret bencana paling menakutkan yakni mati rasa.



Menurut para seniman, Tadarus Budaya sebagai sebuah refleksi para seniman gresik, dalam memaknai serta menghayati ibadah puasa di bulan Ramadhan, sebagai sumber kehidupan yang terus mengalir. “Teknologi telah menjauhkan anak-anak dari hidup bersosial dan berjemaah. Itulah realita yang kami lihat”, ujar Jarir Sururi, salah seorang seniman.



Bagi para seniman Gresik, Tadarus Budaya, tidak sekedar pentas seni, tetapi sebuah refleksi tentang berbagai persoalan di negeri ini, agar manusia tidak mati rasa, di tengah, arus globalisasi teknologi dan informasi, yang masuk di segala sendi kehidupan.



Tarian khas kabupaten Purworejo, yaitu tarian dolalak merupakan seni tarian rakyat hasil akulturasi budaya barat dan timur ini. Dan hingga kini, telah menjadi salah satu khas yang dimiliki kabupaten Purworejo Jawa Tengah.

Tarian dolalak memang terbilang unik dan memiliki kekhasan serta daya tarik sendiri, yang boleh jadi tidak ditemukan di seni tari lainnya. Keunikan nya terletak pada gerak dansa dan rampak pada barisan seperti layaknya par serdadu. Selain itu, aksesoris busana yang dikenakan para penarinya bernuansa serdadu Belanda. Mulai dari kostum, asesoris pangkat, rumbai pada baju topi dan kaca mata.

Konon, di kabupaten Purworejo yang merupakan awal kemuculan dan perkembangan dolalak. Dahulu banyak terdapat tangsi atau barak serdadu Belanda. Di saat senggang, untuk melepaskan penat dan lelah setelah bertugas di medan tempur. Serdadu Belanda lalu mengisinya dengan bernyanyi dan menari.

Kebiasaan itu, kerap disaksikan warga sekitar tempat tangsi itu berdiri. Dari sanalah akhirnya mulailah warga sekitar, mengemas dan mengembangkannya menjadi sebuah kesenian baru.

Penamaan dolalak sendiri berasal dari notasi Do-La-La yang mengiringi gerak dansa dalam tarian ini. Dalam perkembangannya, iringan musik tarian dolalak menggunakan instrumen musik jidur, terbang, kecer, dan kendang. Sedang untuk iringan nyanyian menggunakan syair-syair dan pantun berisi tuntunan dan nasehat. Isi syair dan pantun yang diciptakan, campuran dari bahasa jawa dan bahasa indonesia sederhana.

Di tengah banyaknya hasil karya anak bangsa yang banyak dijiplak oleh bangsa lain. Tari dolalak merupakan karya seni dari Purworejo patut diacungi jempol.


Tari kreasi ciptaan seniman Lamongan kembali mendapat pengakuan. Dalam Festival Karya Tari (FKT) tahun 2011 tingkat Jawa Timur 28 Mei lalu di Surabaya, karya tari baru dengan judul Laskar Mayangkara sukses memborong pulang dua penghargaan sekaligus. Yakni sebagai 10 Penyaji Terbaik dan 3 Penata Musik Terbaik.

Bukan kali ini saja tari kreasi seniman Lamongan Berjaya di sejumlah festival seni. Selama ini tari kreasi dari Lamongan kerap meraih penghargaan tertinggi di tiap event yang diikuti, baik skala regional Jawa Timur maupun nasional. Seperti pada tahun 2007 ketika Tari Boran berhasil menjadi Juara umum Parade Tari Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Disusul kemudian dengan Tari Capang Ngancak yang menjadi penyaji terbaik di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tahun 2008 silam.

“Festival Karya Tari yang diikuti tahun ini adalah bagian dari kegiatan Gelar Budaya Jawa Timur yang dilaksankan di Surabaya dan Malang, “ ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Supardi melalui Kabag Humas dan Infokom Anang Taufik kemarin. Pada Gelara Budaya Jawa tahun ini, lanjut dia, Lamongan juga mengikuti pagelaran kesenian Ludruk Wahyu Budaya dengan lakon Blandong Seloguwo di Taman Budaya Genteng Kali, Surabaya.

Selain itu, masih menurut Anang, benda-benda peninggalan Sunan Drajad juga diikutkan dalam pameran museum unggulan di Taman Krida Budaya Malang. Benda-benda yang ditampilkan diantaranya Gamelan Singo Mengkorok yang dijadikan media dakwah oleh Sunan Drajad pada abad XVI M.

Sementara Tari Laskar Mayangkara seperti dituturkan Purnomo, peñata tari dan musik tari tersebut, mengisahkan perjuangan prajurit Batalyon Mayangkara melayan penjajah yang dikomandani Jarot Subiyantoro periode tahun 1945 hingga 1955. Batalyon Mayangkara di masa itu bermarkas di Desa Mantup Kecamatan Mantup. “Tari ini menggambarkan kesigapan, ketangguhan, keberanian dan semangat pantang menyerah Batalyon Mayangkara yang dikomandani Jarot Subiyantoro, “ papar dia. Tri Kristiani yang menjadi peñata rias dan busana tari ini juga berpengalaman meraih sejumlah penghargaan beberapa tahun belakangan.

Kemolekan dan gerak penari gandrung di Banyuwangi ternyata mampu meluluhkan kuda pacu yang liar. Bahkan, kuda tersebut akan mengikuti gerak penari gandrung dengan lenggak -lenggok yang menarik. Kesenian yang mengkolaborasikan antara tarian gandrung dan kuda pacu tersebut disebut Jaran Kencak Paju Gandrung.

Kesenian kuda paju gandrung, tidak jauh berbeda dengan pertunjukan kesenian gandrung Banyuwangi pada umumnya. Dalam setiap tarian, juga di iringi gending gandrung Banyuwangi seperti podo nonton, sekar jenang, gurit mangir serta berbagai gending gandrung Banyuwangi lainnya.

Atraksi kuda menari bersama gandrung Banyuwangi ini di lakukan oleh dua ekor kuda yang ditungganggi sang joki tradisional. Kuda tersebut menari seolah mengikuti gerak penari gandrung. Bahkan, kuda pacu juga dihias sedemikian rupa, mulai dari kaki hingga kepala sehingga terlihat unik dan menarik untuk ditonton.

Meski pada umumnya kuda pacu tergolong liar dan beringas, namun dalam seni ini, kuda paju gandrung mampu menari bersama gandrung dalam satu arena pertunjukan.

Untuk bisa menghipnotis kuda, sang penari gandrung dituntut memiliki keterampilan dan kelihaian khusus, sehingga, penari harus bisa menghindar jika kuda terlihat mulai beringas.

Tidak hanya penari gandrung, namun, joki juga dituntut memiliki ketrampilan khusus menarikan dan mengendalikan kuda pacu di arena tari.

Kesenian ini berkembang dikalangan pengemar kuda pacu di Banyuwangi sekitar tahun 1990-an. Pada perkembangannya, komunitas ini hanya beberapa orang, namun saat ini, jumlahnya sudah mencapai seratus orang.

Untuk melestarikan seni tradisi kuda paju gandrung ini, para penggemar kuda pacu mengemas acara seni kuda paju gandrung ini untuk acara arisan anjang sana sebulan sekali atau hajatan bagi kumpulan penggemar kuda pacu.
  • Sabtu, Mei 21, 2011
  • Administrator


Foto ini aku ambil di sebuah sudut desa dekat Padepokan seni DAUN, tepatnya desa Banjarsari, dekat terminal Bunder- Gresik- Jawa Timur, tanggal 3 Mei 2011, pukul 12.39 WIB.

Dalam sejarah peradaban, Padi sesungguhnya adalah tanaman rawa, yang kemudian dibawa ke sawah, bahkan sampai ke puncak-puncak bukit ditanam tanpa air menggenang.

Namun walau bagaimanapun, padi yang terbaik adalah yang ditanam seperti asalnya, meniru rawa, dirawat tanpa perlakuan kimia (pupuk, pestisida dan seterusnya).

Untuk memahami muasal padi dari rawa agak sulit ternyata, karena ribuan tahun manusia telah membawa padi jauh dari rawa, berpisah dengan teratai untuk selamanya.

Namun kali ini aku beruntung, karena hanya dengan melangkah kaki beberapa meter saja dari Padepokan Seni DAUN tempat tinggalku, aku menemukan padi (lengkap dengan bulir-bulirnya yang sebagian besar telah dtuai) berdampingan-utuh dengan teratai yang sedang mekar. Seperti menyaksikan Dewi Sri dan Kwan Iem secara bersamaan.

saat menemukan lokasi ini, aku seperti pergi ke ribuan tahun silam saat padi belum dibawa oleh peradaban manusia keluar dari muasalnya: rawa.

mungkin moment dalam foto init tidak anak pernah bisa diulang, kecuali mesin waktu benar-benar telah ditemukan.

Disadur dari akun Facebook Arik S. Wartono
copyright @ Padepokan Seni DAUN


Permainan Mahjong diyakini mampu mengurangi kepikunan akibat pengaruh usia. Selain itu, permainan ala bermain kartu remi dengan gambar huruf China dan bentuk-bentuk tertentu ini juga diyakini mampu mengasah kecerdasan otak serta dapat diterapkan dalam strategi bisnis.

Sepintas, permainan yang dianggap remeh ini, diakui ternyata memiliki banyak manfaat bagi kaum lansia. Kecepatan tangan membalik kartu-kartu Mahjong, mencerminkan kesigapan pemainnya dalam menentukan pilihan langkah, untuk mematikan lawan.

Dalam budaya Cina, Mahjong banyak dimainkan oleh semua kalangan. Permainan ini mirip seperti permainan kartu remi biasa. Bedanya, kartu Mahjong bergambar huruf China dan bentuk-bentuk tertentu, dan masing-masing pemain harus mempertahankan kartu sebanyak 16 buah.

Dalam permainan ini, mengocok kartu Mahjong harus dilakukan seluruh pemain dengan cara mengacak-acak kartu Mahjong. Setelah itu, masing-masing pemain mengambil sendiri kartu hingga berjumlah 16 buah.

Kemudian, empat pemainnya harus mengurutkan nomor kartu dari kecil ke besar. Dalam 16 kartu itu boleh saja menurunkan kelompok kartu yang sudah urut layaknya permainan kartu remi yang sudah memiliki urutan angka. Jangan lupa pemain harus menambah jumlah kartunya supaya tetap berjumlah 16 buah.

Cokro wijoyo, salah seorang penikmat permainan Mahjong mengatakan, sangat gemar bermain Mahjong bersama teman-temannya sesama lansia. Ini dia lakukan untuk mengasah otak yang terpengaruh pertambahan usia. “Kalau kita biasa bermain Mahjong otak kita dapat lebih jernih”, ujar Cokro, salah seorang pemain Mahjong.

Cokro berkisah, di negeri asalnya permainan ini dulunya hanya bisa dimainkan oleh raja dan para jendralnya. Betapa tidak, kartu Mahjong terbuat dari gading. Tapi karena Mahjong juga digemari rakyat terjadilah revolusi pada wujud kartu. Saat ini, kartu Mahjong mudah didapat karena terbuat dari bahan akrilik.

Para pemain akan mencoba untuk mengajarkan permainan strategi ini ke semua etnis dan golongan. Kata mereka Mahjong hanya populer di etnis Tionghoa saja. Padahal permainan unik ini sangat mudah dikuasai. Lagi pula kita bisa belajar berbagai strategi melalui permainan yang mampu dipelajari dalam waktu satu minggu ini. Permainan ini diyakini mampu menjaga kemampuan otak manusia lanjut usia.


Sepertinya kegamangan para sastrawan dan seniman senior selama ini akan regenerasi terjawab sudah. Setidaknya kala para sastrawan yang tergabung dalam Dewan Kesenian Jawa Timur yang ikut menjadi juri dalam Olimpiade Sastra yang diselenggarakan oleh SMA Negeri I Kebomas pada Minggu, (20/2).

Kepuasan itu tergambar dari raut Maumara dan Karsono, keduanya adalah seniman teater yang tergabung dalam jajaran seniman Dewan Kesenian Jawa Timur saat menjadi juri pada lomba monolog olimpiade Sastra se Kabupaten Gresik di SMA Negeri I Kebomas, Minggu (20/2). Sambil melakukan penilaian, tak henti-hentinya mereka tersenyum mengagumi kepiawaian peserta monolog yang tampak sangat ekspresif menampilkan dan menyampaikan dialog tokoh yang diperankan.

Hal ini bisa dilihat saat penampilan siswa SMA negeri I Cerme yang membawakan lakon Puteri Andayaprana. Kisah yang bersetting Pulau Bali ini dimainkan oleh 5 orang siswa yang terbagi dalam 3 orang pemain musik, 1 orang vokalis dan 1 orang siswi yang bernama Amelia Ayu Prasetyana sebagai pelakon (pembawa dialog). Dia memainkan beberapa peran, sebagai puteri Andayaprana dan seketika itu menjadi ibunya.

Puteri Andayaprana yang cantik jelita bakal kawin dengan seseorang pangerang yang gagah berani. Ternyata calon yang yang bakal menjadi suaminya itu adalah orang yang selama ini dicari karena telah membunuh ayahnya.”tak mungkin......, tak mungkin ......aku mencintai dan kawin dengan orang yang membunuh ayahku”. Demikian monolog Amelia Ayu Prasetyana sambil membawa serat lontar sebagai bukti bahwa sang Pangeran telah membunuh ayah kandungnya. Seketika Ayu menangis penuh penyesalan. Tampak dirautnya dendam kesumat yang di akspresikan dengan meremas naskah lontar yang dibawanya sambil menunjukkan kegeramannya.

Itulah monolog yang merupakan salah satu lomba dalam olimpiade Sastra Indonesia yang merupakan kerja bareng antara, Dinas Pendidikan Gresik, SMA Negeri I Kebomas, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia se Kabupaten Gresik dan Dewan Kesenian Jawa Timur mengkompetisikan potensi sastra siswa mulai dari tingkat SD sampai SMA di Kabupaten Gresik.

Acara yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Gresik, Drs. Ali Affandi, M.Pd menghelat 5 (lima) macam kegiatan antara lain, Seminar dan bedah buku, uji kompetensi Sastra Siswa, cipta puisi, musikalisasi Puisi, dan monolog. Diikuti oleh seluruh siswa pecinta Sastra mulai dari tingkat SD sampai SMA se Kabupaten Gresik
Dalam sambutan singkatnya, Ali Affandi menyatakan bangga atas antusias para siswa peserta. Dia mengatakan,”kegiatan ini sangat positif, yaitu dengan mengajak siswa aktif untuk berkarya dan menciptakan sastra yang lebih kreatif. Disini kami melihat dengan sastra, baik puisi maupun karya lain akan lebih bisa bicara mengekspresikan karsa siswa tanpa harus melalui demo-demo atraktif”.

Sementara ketua Panitia, Bagus Sasmito Edi Wahono yang juga guru Bahasa Indonesia di SMA negeri I Kebomas mengatakan, pada olypiade sastra kali ini kami mengambul tema ‘Dunia cyber Media Baru Ekspresi Anak Muda’. Tema ini memang kami sesuaikan dengan keadaan saat ini, juga pelaksanaannya kami tak lepas dari cyber. Bagus mencontohkan lomba penulisan puisi kami mulai sejak pertengahan Januari lalu melalui jejaring sosil Facebook. Para peserta meng uploud hasil karyanya melalui grup smanemas.(sdm)

Mantan Todhuk, adalah salah satu bagian dalam acara pengantenan masyarakat Madura, dengan mengarak kedua mempelai berjalan menaiki dua ekor kuda hias, berkeliling kampung. Acara ini bisa disaksikan di Desa Pagagan Kecamatan Pademawu Pamekasan Madura.

Menari, tak selamanya bisa di lakukan oleh manusia. Setidaknya, kesan inilah yang tersirat saat kita menyaksikan arak-arakan pasangan penganten ala Madura.
Dengan di iringi kesenian asli Madura bernama saronen, kedua ekor kuda berjalan sambil menari, seakan mengerti, tuannya yang sedang menaikinya, berada dalam ikatan kebahagiaan. Kaki depan kedua ekor kuda ini berjalan seimbang, mengikuti alur musik yang menyertainya.

Rombongan kemanten ini, oleh masyarakat Madura dikenal dengan istilah Mantan Todhuk. Tentu, acara ini bertujuan mengenalkan kedua mempelai pada masyarakat umum, sebagai pasangan baru dalam tatanan keluarga besar.

Biasanya, arak-arakan berangkat dari rumah penganten putra menuju rumah kepala desa dan berakhir di rumah penganten putri.

Dengan di iringi kesenian asli Madura bernama saronen, kedua ekor kuda berjalan sambil menari, seakan mengerti jika tuannya yang sedang menaikinya, berada dalam ikatan kebahagiaan. Kaki depan kedua ekor kuda ini berjalan seimbang, mengikuti alur musik yang menyertainya.
Saronen, merupakan kesenian khas Madura. Biasanya, kesenian ini di tampilkan saat akan memulai kerapan sapi atau mengiringi penganten Madura.

Irama musik, dimainkan dengan tempo lamban yang berubah menjadi tempo medium, lalu semakin cepat. Peningkatan tempo ini, terjadi secara bertahap. Dari segi bunyi, kesan umum yang di dapat saat menikmati musik ini baik dalam irama lambat maupun cepat, adalah bunyi lengking terompet yang dilatar belakangi bunyi tenahan dari gong di iringi irama metalik.

Saat rombongan berada di rumah mempelai putri, biasanya kedua ekor kuda memperlihatkan kebolehannya, dengan berantraksi. Salah satu yang menonjol, sang kuda bisa berdiri sambil menari.

Acara ini dilaksanakan agar, masyarakat yang hadir, ikut mendoakan keselamatan kedua mempelai. “Tujuan lain yang tak kalah pentingnya adalah mendoakan kebahagiaan pada kedua mempelai”, ujar Musleh, orang tua mempelai putri.

Menurut Musleh, Mantan Todhuk ini telah di warisinya secara turun temurun, dan sengaja di lestarikan, agar budaya ini tidak lenyap begitu saja. Musleh juga berharap, agar pemerintah ikut menjaga budaya asli Madura ini.
  • Selasa, Februari 15, 2011
  • Administrator

Sepintas, kesenian Beubeugig di Ciamis Jawa Barat, menyerupai Reog Ponorogo. Namun yang membedakan, para pemain dalam kesenian Beubeugig hampir seluruh badannya dibalut dengan sapu ijuk.

Selain itu juga menggunakan topeng berbentuk raksasa serta dipenuhi dengan berbagai dedaunan. Sehingga, orang yang melihat topeng tersebut sedikit ketakutan, karena dari bentuknya yang sengaja dibuat seram.

Kesenian Beubeugig biasanya dipentaskan pada saat hari-hari besar, seperti hari Idul Fitri, Maulid Nabi serta hari besar islam lainnya termasuk juga saat pesta rakyat. Para pemain Beubeugig kemudian berjalan kaki mengelilingi setiap ruas jalan desa, sambil diiringi oleh kesenian musik khas jawa barat. Disepanjang perjalanan para pelaku seni nBeubegig ini menari dan mengajak setiap warga yang menonton untuk ikut gabung keliling pedesaan.

Bisa di bayangkan, pada saat pentas tersebut rombongan Beubeugig ini akan berkeliling desa sejauh 5 hingga 10 kilometer, padahal berat dari topeng Beubeugig ini mencapai 60 kilogram, sehingga untuk memainkan kesenian Beubeugig ini, diperlukan keahlian tersendiri.

Setelah berkeliling desa, biasanya kesenian Beubegig ini akan melakukan aksinya di kantor kecamatan setempat. Disini para Beubegig tersebut disambut dengan iringan musik, sehingga para Beubeugig ini meluapkan kegembiraannya dengan cara menari dan berjoget, tak jarang banyak di antara pemain Beubeugig yang kelelahan, karena harus menopang menahan beban topeng seberat 60 kilogram.

Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan, Kabupaten Ciamis, terus melestarikan kesenian Beubeugig ini, agar nantinya tidak ada yang meng kleam kesenian tersebut, seperti yang kerap terjadi pada kesenian-kesenian yang lain, yang ada di indonesia. Apalagi, kesenian Beubeugig merupakan seni kebanggaan warga ciamis, karena di warisi secara turun temurun.


Pada umumnya, tata rias pengantin di wilayah pulau Jawa, tidak akan terlepas dari budaya tata rias pengantin Solo, dan Yogyakarta. Namun, di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, tata rias pengantin memiliki tata rias tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Yakni menggunakan capit kepiting dan sanggul delapan.

Tata rias pasangan pengantin khas Batang sudah dikukuhkan menjadi salah satu aset budaya provinsi Jawa Tengah. Ciri khusus tata rias pengantin khas Batang adalah menggunakan capit kepiting dan sanggul delapan serta simbol burung Garuda di tangan pengantin laki-lakinya. Tata rias pengantin untuk masyarakat kecil, pada umumnya menggunakan corak pengantin pesisiran. Sedangkan untuk kalangan menengah keatas, menggunakan corak pengantin Batang priyayi.

Untuk mempelai laki laki dalam pengantin Batang priyayi, menggunakan jas warna hitam dengan keris yang diselipkan di depan perut serta hiasan peyet putih, kain sidomukti lipat lima, stagen seno sebagai penutup dan sandal hitam. Sedangkan untuk mempelai wanita, menggunakan sanggul delapan, yang dipasang horizontal menggunakan cemara panjang dan di lilit pupus daun pisang serta capit kepiting.

Sedangkan pengantin Batang pesisir, untuk pengantin laki laki tidak menggunakan baju. Sementara keris diselipkan di belakang sambil memakai klat bahu yang berbentuk Garuda dan dipasang di kedua tangannya. Di samping itu, juga menggunakan kalung susun tiga. Sedangkan untuk mempelai wanita, tetap menggunakan baju, namun tampak dada dengan menggunakan kalung susun tiga, capit kepiting, sanggul delapan dan kain selendang yang dilipat seperti angka delapan, dibelakang pinggul.

Menurut sejumlah tokoh penggagas pengantin khas Batang, ciri khusus tata rias pengantin Batang, tidak dimiliki oleh daerah lainnya di Jawa. Khususnya pada perhiasan dan baju yang dipakai oleh pasangan pengantin, yakni sanggul delapan, capit kepiting, klat bahu berbentuk burung garuda. Sementara capit kepiting, merupakan gambaran orang pesisir pantai utara laut Jawa yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.

Pengantin khas Batang, khususnya Batang pesisiran, merupakan corak yang bertolak belakang dengan corak pengantin Solo dan Yogyakarta. Karena, corak tata rias pengantin pesisiran, justru digunakan oleh orang dalam keraton. Namun, di Batang, corak tersebut digunakan oleh orang kecil. Meski sudah bisa dikolaborasikan dengan model trend zaman sekarang. Namun, tiga ciri khusus itu tidak bisa ditinggalkan.

Pulau Flores selain memiliki sejumlah obyek wisata alam yang menarik, juga memiliki aset wisata budaya yang hingga kini masih terus terpelihara dengan baik. Salah satu aset wisata budaya yang masih terpelihara hingga kini, adalah perkampungan adat dengan kehidupan tradisionil. Namun sayang kampung adat tersebut belum banyak diketahui dunia luar karena kurangnya promosi.

Obyek wisata perkampungan adat Gurusina Di Desa Watumanu, Kecamatan Jerebu'u, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebanrnya memiliki daya tarik tersendiri, di banding obyek wisata pada umumnya.

Keunikan perkampungan adat Gurusina ini misalnya, selain dilatari dengan gunung ineria, juga dalam lokasi pemukiman, seluruh rumah adat terbuat dari bambu dan atap alang-alang.

Sedangkan di beberapa rumah induknya, terdapat hiasan rumah di atas atapnya. Hiasan rumah di atas atap ini menandakan bahwa rumah adat ini merupakan rumah adat utama.

Pada bagian depan setiap rumah adat juga, terdapat pajangan tanduk kerbau. Tanduk kerbau ini menandakan kejayaan dan kebesaran akan harta dan kekayaan setiap warga penghuni rumah adat disini.

Selain itu lantai rumahnya pun tanpa semen, melainkan menggunakan pelepah bambu. Dan di setiap papan penyangga lantai terdapat ukiran berbentuk bunga dan binatang.

Keunikan lainnya pada rumah adat ini ialah, di setiap pintu utama tepatnya di bagian atas pintu masuk depan, diberi ukiran kayu dengan nama rumah.

Di kampung adat ini setiap warga lansia, sehari-hari mempunyai pekerjaan khusus, diantaranya memecahkan buah kemiri dan menjemur hasil bumi lainnya di halaman rumah.

Pada bagian tengah perkampungan adat Gurusina ini, terdapat tiga buah rumah kecil, yang bahan bangunannya sama persis dengan bahan bangunan rumah adatnya., fungsi dari ketiga rumah ini, adalah sebagai tempat penyimpanan harta benda serta kekayaan suku Gurusina.

Disamping itu pula, di tengah perkampungan ini juga terdapat tiga buah lopo yang dipercaya warga kampung Gurusina sebagai tempat peristirahatan para leluhur mereka.

Walaupun kampung adat Gurusina ini memiliki banyak keunikan, yang dapat ditawarkan kepada para wisatawan, namun sayang, aset wisata ini belum banyak diketahui wisatawan karena kurangnya promosi dari pemerintah setempat.
  • Minggu, Oktober 03, 2010
  • Administrator


Pencak macan adalah salah satu kesenian pengiring arak-arakan pengantin masyarakat Kelurahan Lumpur dan Kroman, Kecamatan Kota Gresik Jawa Timur. Tradisi ini merupakan budaya warisan leluhur yang berusia ratusan tahun. “Pertama kali dikenalkan dan dilestarikan Mbah Sindujoyo,” ujar Hendrik Umardiluhung, seniman Gresik.

Tradisi pencak macan merupakan tradisi ngarak (mengiring) pengantin yang mulai dari rumah pengantin laki-laki. Dimana setelah pengantin laki-laki dirias dan keluar rumah disambut penabuh hadrah dengan bacaan Sholawat Nabi Muhammad SAW. Kemudian pengantin berangkat dengan diiringi arak-arakan berupa beberapa kesenian tradisional yang dipentaskan di perempatan. Diantaranya Seni Hadrah dengan lantunan Sholawat Tola’an Badrun dan tabuan pencak.

Pada dasarnya tradisi pencak macan secara filosofisnya mempunyai arti sebagai pengingat tentang lika-liku serta konflik perjalanan yang akan dihadapi pasangan pengantin sebagai suami istri dalam menjalani bahterah rumah tangga.

Setidaknya hal itu tergambar dalam peran fisik macan, gendoruwo, monyet dan seorang ulama. Sebagai penghias filosofinya diikutkan pembawa ketopang, paying, pontang lima, pembaca sholawat serta pembawa karbit atau obor.

Simbol yang diperankan dalam karakter Macan, merupakan lambang seorang laki-laki yang perkasa yang mempunyai sifat keras seperti macan. Namun, memiliki sikap dan rasa tanggungjawab yang tinggi. Monyet sendiri menggambarkan, seorang perempuan yang lincah, walaupun cerewet, bawel dan suka aneh-aneh. Namun, iya mempunyai sikap yang rajin dalam mengurus rumah tangga.

Sedangkan gendoruwo melambangkan sebuah sifat haus dan nafsu (setan, red) yang artinya dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga tidak luput dari perselisihan atau konflik. Hal itu dipicu hawa nafsu akibat godaan setan. “Seni ini menjadi tradisi arak-arakan pengantin tradisional masyarakat pesisir Lumpur dan Kroman,” kata Kris Adji AW, pemerhati budaya Gresik yang juga seniman lukis tersebut.

Bukan hanya pencak yang mengandung filosofi hidup bagi pengantin baru. Namun, aksesoris lainnya juga mengandung nilai dan falsafah keagamaan yang cukup tinggi serta gambaran sejarah. Ketopang delapan lonjor dan payung satu, dimana ketopang terbuat dari sapu lidi yang berjumlah 33 dihias kertas merah putih yang ditancapkan ke buah papaya dan ditaruh di atas bambu serta dibawa delapan orang. Ketika banyak penonton salah satunya harus diperebutkan penonton.

Pontang lima yang dibawa lima putri berparas ayu menggambarkan rukun Islam. Pontang lima yang terbuat dari daun pisang dihiasi janur yang berisi makanan ketan warna-warni yang tengahnya ada contong daun pisang dan diujungnya da kapas. Hal itu melambang aneka aliran dan golongan dalam Islam. Nmaun, tetap menjadi satu tujuan Allah Maha Suci.

Hadrah dan Sholawat Nabi Muhammad SAW merupakan syair pujian kepada Allah dan Rosulnya bertujuan pengingat supaya tetap punya keyakinan dan keimanan. Posis hadrah yang di depan pengantin lambangkan agama sebagai benteng dan tameng dalam hidup berumah tangga. Lampu karbit atau obor bermakna agar kedua mempelai atau pengantin ikut menerangi bumi dengan menyiarkan Islam.

Nah, kekuatan dan dalammnya arti filosofis simbol dalam tradisi pencak macan tersebut cukup disayangkan hilang tanpa jejak. Jangan disayangkan tradisi lokal tersebut musnah. Apalagi, dalam tradisi pencak macan dalam setiap gerakannya dibarengi dengan bunyian mocopat, yang kemudian dikenal dengan Mocopat Sindujoyo.

“Kami sangat menyayangkan kalau ini sampai musnah. Bila hal itu dibiarkan, pencak macam akan lapuk dimakan zaman,” ujar Anharul Machfud, pemuda pelopor Gresik asal Kelurahan Lumpur.

Keberadaan pencak sendiri saat ini ibaratnya hidup tak mau mati enggan. Keberadaannya hanya beberapa keturunan Lumpur dan Kroman yang menggunakan jasa di acara pengantin. Bila itu tidak ada, maka dengan sendirinya lenyap dan terkikis oleh era digital modern. Apalagi, pemerintah sendiri di nilai kurang memperhatikan. “Kami merasakan pemerintah memang lepas tangan.


Seni tari punya peran tersendiri dalam menyebarkan agama Islam di masa lalu. Bahkan di zaman Wali Songo, menjadi salah satu media dakwah hingga mudah di terima masyarakat. Salah satunya adalah seni tari kuntulan yang hingga kini masih bertahan di Desa Pegunungan Andong Magelang Jawa Tengah.

Seni tari kuntulan memang unik. Pria-pria tua dengan baju dominan putih berselempang hiasan. Ditangannya menggenggam kipas sambil berlenggak lenggok kesana kemari. Kadang berputar, kadang berhenti sambil mengangguk-anggukan kepala. Mulut mereka terus melantunkan syair-syair Islami. Kesannya memang lucu dan sedikit kemayu. Tapi inilah ciri khas seni jaman kuno di pegunungan. Tujuannya untuk menarik warga berkumpul. Lalu di tengah musik dan tarian, dilantunkanlah syair ajakan untuk menjalankan syariat islam dan berbuat baik kepada semua umat manusia. Cara inilah yang dulu dipakai para wali dalam menyebarkan agama islam.

Tari kuntulan juga pernah berkembang pada masa Pangeran Diponegoro untuk mengelabuhi Pemerintah Kolonial Belanda agar Laskar Laskar Pangeran Diponegoro di dalam menyusun kekuatan tidak tercium oleh Belanda. Maka gerakan gerakan bela diri di perhalus dan di iringi rebana maupun syair syair keagamaan.

“Kuntulan” di ambil dari nama burung sejenis angsa, sehingga tak heran jika para penarinya selalu mengenakan pakaian serba putih sesuai warna angsa. “Sebenarnya masih banyak hal-hal positif yang bisa di ambil dari falsafah burung angsa. Tapi kita kurang menggalinya”, ujar Busro, salah seorang penari Kuntulan.

Seni kuntulan masih tumbuh subur di desa pegunungan dan sekitarnya, antara lain di lereng Gunung Andong, Merbabu, Merapi, Sumbing dan pegunungan Menoreh. Seni ini muncul sejak ratusan tahun yang lalu. Menurut kisah turun temurun masyarakat setempat, seni kuntulan saat itu dibawa oleh sunan kalijaga dan dikembangkan oleh pengikut beliau. Lambat laun seni ini berkembang dan dapat diterima msyarakat karena efektifitasnya sebagai media dakwah dan media tutur untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan sosial lainnya.(86)
  • Rabu, Juli 21, 2010
  • Administrator


Bermain musik tidak harus menggunakan alat musik modern yang mahal. Dengan sentuhan minimalis dan kreatif, semua orang dapat menikamati dan bermain alat musik. Itulah yang ditunjukkan, penabuh drum jazz, Gilang Ramadhan, saat memberikan motifasi di depan siswa SMA Negeri Sumatera Selatan (20/07/2010.)

Tak seperti biasanya, Gilang Ramadhan, panbuh drum kawakan musik jazz Indonesia, duduk di belakang drum yang akan di tabuhnya. Kali ini ia menabuh dua gallon air mineral kosong dibantu salah seorang siswa SMA Negeri Sumatera Selatan.

Didampingi istrinya Shanaz Huq, Gilang memainkan gallon air itu dengan teratur dan memberikan warna suara musik yang enak dinikmati. Hal itu mengundang tepuk tangan, setelah sekitar satu menit Gilang dan siswa SMA itu menabuh gallon air tersebut.

Gilang yang saat ini lebih inten menjadi pengamat pendidikan bersama istrinya dan juga sebagai duta pendidikan, memberikan motifasi di sebuah acara inagurasi siswa SMA Negeri Sumatera Selatan, yang merupakan SMA bertaraf internasional. Semua muridnya adalah siswa yang berasal dari keluarga miskin seluruh Indonesia.

Pesan yang disampaikan Gilang adalah bermain musik tidak harus anak orang kaya atau pun dengan alat musik yang mahal. Namun dengan berfikir kreatif dan sederhana, musik pun dapat dinikmati semua golongan dan dengan alat apapun, termasuk dengan hal-hal lain yang dapat ditumbuhkan anak-anak Indonesia dengan kreatifitasnya.

Inagurasi siswa SMA Negeri Sumatera Selatan ini adalah untuk siswa angkatan kedua, sekolah yang di biayai lembaga donor dan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

Sekolah ini merupakan sekolah gratis percontohan berstandar internasional yang saat ini gedungnya masih dalam proses pembangunan.
  • Minggu, Juni 20, 2010
  • Administrator


Menuturkan sejarah tidak harus dipaparkan lewat cerita lisan atau dengan bacaan. Pawai budaya dalam perayaan hari jadi Lamongan ke-441 tahun ini (20/06/2010,) bisa menjadi sebuah sarana menuturkan sejarah perjuangan kebangsaan. Langkah ini merupakan bentuk kreasi seni sekaligus mengisahkan perkembangan kesenian tempoe doeloe.

Sekitar 14 jenis seni dan budaya dari 14 Kabupaten Kota se-Jawa Timur, ditampilkan dalam parade budaya dalam rangka Hari Jadi Kota Lamongan Jawa Timur ke-441.

Dengan start di depan Pendopo Lokakantra Lamongan, parade ini menampilkan sejumlah kesenian mulai dari kesenian pesisir pantai utara Jawa, kebudayaan Islam, cerita kerajaan Majapahit dan Blambangan.


Tak hanya itu, kesenian barongsai dan Tarian Ting Genting asal Kabupaten Probolinggo sebagai simbol perlawanan rakyat petani indonesia pada zaman penjajahan kolonial belanda, sempat menjadi daya tarik tersendiri bagi para penonton karena keunikannya.

Pagelaran pawai budaya yang menampilkan berbagai kesenian yang bersumber dari nilai-nilai budaya lokal ini, begitu berkesan pada masyarakat karena bisa mengetahui sejarah budaya leluhurnya. “Ini untuk mengajarkan kepada warga bahwa kita kaya akan budaya”, ujar Sayuri, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lamongan.

Selain menampilkan kesenian cerita petani, parade budaya ini juga menampilkan tarian seni jaranan yaitu kesenian Jaran Dor, Jaran Kepang dan Jarang Jinggo yang merupakan kesenian asli kabupaten Lamongan.
  • Jumat, Juni 11, 2010
  • Administrator


Banyak cara bisa dilakukan orang untuk melestarikan dan mengenalkan kesenian wayang dikalangan generasi muda. Diantaranya dengan memperkenalkan tokoh-tokoh wayang yang melalui wayang kecil yang dibuat dari daun lontar. Apalagi, wayang nerupakan salah satu seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya.

Wayang lontar begitulah namanya, kini makin dikenal warga sebagai salah satu mainan alternatif anak-anak, hasil karya Eyang Tholib, Warga Magersari-Sidoarjo. Berbentuk lebih kecil dibanding wayang kulit atau wayang golek yang terbuat dari kulit kerbau atau sapi, wayang daun lontar ini dikenal lebih lentur.

Bedanya pula, jika pada wayang kulit dimainkan dengan cara ditancapkan pada pelepah pisang, namun untuk wayang lontar ini biasanya dimainkan dengan cara ditancapkan diatas pasir yang ditata sedemikian rupa pada sebuah tempat.

Sementara untuk membuat wayang lontar, dibutuhkan biaya yang sedikit lebih mahal. Untuk satu wayang lontar tokoh pewayangan, dibutuhkan dana sekitar 100 ribu rupiah.

Menurut pria berumur 65 tahun tersebut, pembuatan mainan wayang lontar, di latarbelakangi oleh kegemarannya akan kesenian wayang. “Pertama kali saya membuat karena kegemaran saya akan kesenian wayang serta ingin melestarikannya”, ujarnya.
Dengan hasil olah kerajinan tangan Eyang Tholib, daun lontar yang kering, dimodifikasi dan dibentuk menyerupai bentuk tokoh pewayangan seperti Gatutkoco, Bimo, Werkudoro Dan Srikandi.

Untuk membuat satu buah wayang lontar, dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Bahkan karena bentuknya yang unik dan menarik, kini wayang lontar juga digunakan warga untuk souvenir pernikahan, selain sebagai mainan anak.


  • Rabu, Juni 02, 2010
  • Administrator


Pada umumnya, seniman lukis mengekspresikan karyanya di atas kertas ataupun kain. Namun, berbeda halnya dengan Jumartono, warga Jalan Sunan Giri Kota Lamongan yang mampu mengekpresikan gagasannya melalui media batu candi Gunung Merapi.

Sudah setahun lamanya, pelukis lulusan sekolah menengah seni rupa di surabaya ini bereksperimen dengan batu candi sebagai media lukisannya. Pemilihan batu candi yang didatangkannya langsung dari gunung Merapi sebagai media lukisan adalah untuk memberi kesan sosial kondisi masyarakat kelas bawah yang berkarakter keras.

Dengan kemampuan seninya yang terukur rapi, goresan halus kanvas di tangannya, mampu menggambarkan kekerasan psikologis masayarakat kelas bawah yang tertuang dari bahasa tubuh figure-figur yang gelisah. Kesan ini akan semakin kuat ketika berpadu dengan kerasnya batu candi.

Jumartono tertarik untuk melukis di atas batu candi dengan tema kekerasan yang dihadapi kaum muda, mulai kekerasan hidup akibat himpitan ekonomi, putus cinta hingga kecewa akibat impian yang tidak tercapai. Tema tersebut dieksplorasi dalam simbol-simbol bahasa tubuh yang terlihat gelisah.

Rata-rata, karya lukis Jumartono dituangkan dalam lempengan-lempengan batu yang berbentuk kotak dengan ukuran 20 x 20 centimeter hingga 40 x 40 centimeter. Lempengan-lempengan tersebut kemudian disusun menjadi satu dengan ukuran beragam.

Untuk melukis di atas batu candi, pemuda kelahiran Lamongan 32 tahun silam ini menggunakan cat air yang berkualitas tinggi. Tekstur batu candi yang berkarakter keras, menambah nilai artistik dari lukisan yang tertuang di atas lempengan-lempengan batu candi tersebut. “Ini lebih cenderung pada konsep saya untuk mengangkat realitas hidup para pemuda di kelas bawah”, ujarnya.

Lukisan batu candi ini mengadopsi tema street art, atau lukisan jalanan sehingga sifatnya fleksibel. Bisa dipajang di dalam maupun di luar ruangan.

Dari ide lukisan yang di tuangkan di media batu candi ini, Jumartono mampu menembus Pameran Lukisan Nasional Indonesia Art di Jakarta 17 hingga 27 Juni 2010 mendatang, untuk bersaing dengan pelukis senior lainnya.

Selain melukis di media batu candi berukuran kecil, Jumartono juga menuangkan lukisan berukuran besar. Lukisan berukuran kecil misalnya di jual dengan harga relatif murah, berkisar dari harga 200 ribu hingga 500 ribu rupiah. Semantara lukisan berukuran besar, dijualnya dengan harga Tujuh Juta hingga Sepuluh Juta Rupiah.
  • Selasa, Mei 04, 2010
  • Administrator


Karya indah tak selamanya harus terbuat dari bahan baku mahal. Kadang bisa juga berasal dari barang tak berharga. Seperti hasil karya seorang pemuda bernama Okto Sanitia Maarif, warga Jalan Penatusan, Kelurahan Purwokerto Wetan Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, justru mampu berkreasi dengan lukisan reliefnya dari koran bekas.

Okto menjadi kreator karya seni yang banyak diminati. Tentu saja, selain idenya yang cemerlang, proses pembuatannya yang membutuhkan naluri seni yang tinggi hingga benar-benar menjadi karya yang indah, dan itu butuh proses yang tidak sederhana.

Apa yang anda bayangkan setelah melihat hasil lukisan relief bergaya surealis karya Okto adalah bayangan tentang proses pembuatannya dari materi yang mahal. Anda salah, karena lukisan relief ini ternyata dibuat dari koran bekas. Ya, barang yang ada di sekitar kita yang kadang luput dari perhatian karena hanya menjadi sampah.

Dari bahan dasar dari koran bekas, Okto justru bisa meraup keuntungan bersih hingga 5 juta perminggunya. Pemuda usia 22 tahun ini memang terbilang sangat kreatif. Ia bahkan mengajak orang tua serta tetangganya untuk membantu membuat lukisan relief.

Tangan terampil Okto Sanitia Maarif, mampu menyulap koran bekas menjadi lukisan indah, dengan terlebih dahulu di jadikan bubur melalui campuran air. Dari sinilah Okto kemudian mulai bereksperimen dengan naluri seninya yang bagus.

Untuk menghasilkan bubur kertas yang baik, Okto merendamnya selama sehari semalam atau juga bisa ditumbuk sampai halus. Setelah menjadi bubur halus, dicampurkan semen putih dan lem agar bubur kertas bisa dibentuk.

Awalnya adalah membuat media lukisan yang juga dibuat dengan mencetak adonan bubur kertas. Ketebalannya tergantung dari ukuran lukisan, biasanya berkisar 1 hingga 3 centimeter. Setelah itu, pembuatan relief di lanutkan sesuai bentuk lukisan yang akan dibuat. Ini dibutuhkan ketelatenan dan tentu saja bakat membuat rancangan dan tata dimensi untuk mendapatkan hasil sempurna.

Setelah dibentuk relief, lalu diberi lapisan coating. Lapisan ini untuk menjaga agar lukisan bisa awet terpasang. Jika tidak diberi lapisan, usia lukisan tidak akan bertahan lama karena daya rekat kertas sangat terbatas.

Setelah itu, baru di lanjutkan proses finishing dengan cat sesuai lukisan. Untuk relief diorama yang berukuran besar lebih dibutuhkan ketrampilan memahat yang baik.

Ide lukisan ini awalnnya ternyata tak mudah diterapkan karena karakter bahan kertas yang mudah rusak. Setelah mencoba beberapa kali, Okto baru bisa membuatnya lebih kuat. “Dari awal hanya sekedar coba-coba”, ujarnya.


Kendala yang dihadapi dalam pembuatan lukisan relief bubur koran ini adalah faktor cuaca. Jika musim hujan, biasanya lukisan relief memerlukan pengeringan hingga 4 hari. Namun jika cuaca panas, satu hari sudah kering dan langsung bisa dicat finishing.

Saat ini, hasil karya Okto sudah mulai dilirik sejumlah pemilik show room barang seni. Bukan saja di Purwokerto, tetapi sejumlah kota besar termasuk Jakarta dan Surabaya.

Berbagai corak lukisan relief seperti kaligrafi, hiasan abstrak atau gambar bunga merupakan pesanan yang banyak diminati. Harganyapun bervariasi tergantung besar kecilnya ukuran serta rumitnya pengerjaan.

Harga yang ditawarkan mulai 200 ribu hingga dua juta lima ratus ribu rupiah. Menurut Okto, ia sengaja memanfaatkan limbah koran ini agar bisa dijadikan barang seni yang bernilai tinggi. Sebagian besar permintaan adalah lukisan aliran surealis dan kaligrafi. Jadi, jangan buang koran bekas anda!

BTemplates.com

Categories

Kamera CCTV Palembang

Popular Posts

Blog Archive